Isu Tsunami, Warga Pesisir Barru Tinggalkan Rumah
BARRU – Puluhan masyarakat yang tinggal di bibir pantai di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, memilih meninggalkan rumah menuju ke tempat yang lebih tinggi. Masyarakat masih takut karena isu akan terjadinya tsunami di wilayah tersebut.
Hania, salah seorang pemilik warung di sekitar jalan poros Kabupaten Barru atau trans-Sulawesi, yang berdekatan dengan pantai, mengatakan, banyak dari mereka yang memilih meninggalkan rumah atau warung karena takut terkena terjangan tsunami. “Para pemilik rumah dan warung di dekat pantai memilih pergi ke tempat aman sejak subuh hari ini,” ungkapnya, Senin (1/10/2018).
Puluhan masyarakat sampai pukul 10.28 WITA, belum pulang ke tempat masing-masing. Bahkan warung-warung warga di Kabupaten Barru juga belum sempat ditutup. Sementara Hania memilih tetap tinggal, karena tidak percaya dengan isu tsunami tersebut.
Sementara itu, Adi salah seorang warga di sekitar pantai Kabupaten Barru juga mengaku tidak percaya dengan isu tersebut. “Saya sempat melihat laut dan tidak ada apa-apa, normal saja. Namun memang ada juga warga yang memilih pergi dan sampai siang ini masih bertahan di daerah ketinggian,” kata warga Jalangnge Kecamatan Mallusetasi, Barru tersebut.
Warga lainnya, Indrajaya, pertama kali mendengar isu dari keluarganya yang ada di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. “Justru kami dengar pertama dari dari Pinrang, makanya kami antisipasi dan banyak pula yang sejak pagi menuju ke daerah yang lebih tinggi setelah mendengar isu tsunami,”ujarnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bandung mulai Senin kemarin, menghimpun dana untuk membantu korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. “Saya mengimbau kepada ASN Kota Bandung, tapi tidak terbatas ASN Kota Bandung, akan tetapi kepada masyarakat untuk berkontribusi mengumpulkan sebagian harta yang kita miliki,” ujar Wali Kota Bandung, Oded M. Danial, saat upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Balaikota Bandung.
Secara teknis, penggalangan dana bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), akan dilakukan melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkot Bandung, bekerja sama dengan Rumah Zakat. Menurutnya, duka korban bencana Palu dan Donggala merupakan duka bersama seluruh masyarakat Indonesia.
Agar meringankan beban, Oded mengajak warga Kota Bandung menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu. “Batas pengumpulan dua hari. Saya berharap itu sudah terkumpul, nanti diumumkan berapa yang kita dapatkan,” tandasnya.
Kabag Kesra Pemkot Bandung, Tatang Muchtar mengatakan, pengumuman penggalangan dana akan dilakukan melalui pesan berantai dari Dinas Komunikasi dan Informatika. Dana tersebut sepenuhnya akan dikelola oleh Rumah Zakat, sebagai lembaga yang memiliki izin dalam pengumpulan dan penyaluran bantuan kemanusiaan. “Kita siapkan posko dari Rumah Zakat standby, dan mudah-mudahan menurut pengalaman selama dua hari itu sudah terkumpul dari semua OPD (organisasi perangkat daerah) dan kita kumpulkan ke pimpinan,” katanya.
Bagian Kesra Pemkot Bandung hanya mengakomodasi donasi dari ASN, sedangkan bagi masyarakat umum yang ingin membantu bisa menyalurkannya melalui lembaga-lembaga amal lainnya. “Banyak lembaga-lembaga yang melakukan pengumpulan (dana, red.) di samping Rumah Zakat, ada Dompet Dhuafa, ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan lainnya. Kita hanya di lingkungan ASN dalam waktu dua hari,” kata dia. (Ant)