Indonesia Go Nuklir, Batan Sosialisasikan Teknologi Nuklir
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Sosialisasi produk Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) selalu dilakukan secara rutin setahun sekali.
Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindakan proaktif dan interaktif Batan untuk mendatangi pelaku bisnis dalam mengenalkan semua teknologi sekaligus untuk mempersiapkan masyarakat dalam menyongsong Indonesia Go Nuklir.
“Acara ini kita adakan baik untuk pelanggan Batan maupun yang belum menjadi pelanggan tapi memiliki potensi untuk menjadi pelanggan Batan. Bagi yang sudah menjadi pelanggan, tentunya akan diperkenalkan produk layanan lainnya dari Batan,” kata Djarot di PAIR Batan Jakarta, Rabu (17/10/2018).
Misalnya pelanggan yang biasa melakukan analisis radioaktivitas Alfa-Beta Total, mungkin bisa menjadi tertarik untuk melakukan pelatihan petugas proteksi radiasi atau sertifikasi person LSP-010-IDN untuk lingkup sertifikasi personal radiografi level 1 dan level 2.
“Dengan semakin banyak mitra nuklir, diharapkan akan semakin banyak yang bisa membicarakan tentang manfaat nuklir. Jadi masyarakat akan semakin mengerti bahwa nuklir itu bukan hanya bicara tentang senjata, seperti apa yang muncul di opini masyarakat. Karena yang namanya nuklir ini seperti sejak lahir sudah dikutuk sebagai hal yang buruk. Padahal nuklir tidak selamanya negatif,” kata Djarot lebih lanjut.
Dan yang terakhir adalah untuk menunjukkan juga bahwa sumber daya manusia Indonesia memang sudah memiliki kompetensi untuk mengelola industri dan bahan nuklir.

Secara lebih mendalam, Deputi Bidang Pendayagunaan Nuklir, Hendig Winarno, menyatakan bahwa Batan ingin membantu mensejahterakan masyarakat.
“Kita memanfaatkan teknologi nuklir ini untuk membantu masyarakat. Misalnya di bidang kesehatan, melalui radiofarmaka dan radioisotop kita membantu untuk hal pengobatan. Yang selama ini kita bekerja sama dengan Kimia Farma untuk memasarkan obat-obat. Misalnya obat untuk mendeteksi penyebaran kanker di tubuh,” ujarnya.
Hendig juga menyebutkan fasilitas-fasilitas iradiator dapat digunakan untuk membantu penelitian para peneliti Indonesia dalam menciptakan inovasi baru untuk kepentingan negara maupun masyarakat. Bahkan ada beberapa negara yang mengirimkan penelitinya ke Indonesia untuk mendapatkan pelatihan di Batan.
“Misalnya untuk membantu penelitian tanah jarang untuk pembuatan cat anti radar ataupun penciptaan portal monitor radiasi yang akan membuat pemantauan barang-barang yang mengandung radioaktif dapat dipantau hanya dengan melewati portal,” ucap Hendig lebih lanjut.
Salah satu pengguna fasilitas Batan yang berdagang di Pasar Induk, Sembiring menyatakan dirinya menggunakan fasilitas radiasi nuklir untuk pengawetan cabe.
“Saat panen cabe, saya membeli cabe dengan harga di atas pasar. Lalu saya jadikan serbuk dan di radiasi. Cabe ini bertahan hingga 2 tahun. Jika terjadi kenaikan harga cabe, maka saya bisa membantu dengan menjual serbuk cabe ini dengan harga normal,” kata Sembiring didepan para nasabah Batan lainnya.