Disperindag Jateng Bina Wirausaha Industri Kreatif Digital
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Sebuah acara para pencinta anime bertajuk Indonesia Comic Con 2018 yang menghadirkan komik, serial TV, film, selebriti, anime, dan cosplay terbaik ini tampaknya tak hanya menyajikan produk-produk terkenal internasional maupun nasional, tapi juga daerah.
Buktinya, Disperindag Provinsi Jawa Tengah ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan, Disperindag Jateng melakukan pembinaan Incubator Business Center (IBC) dengan tujuan untuk membina start-up atau wirausaha baru di bidang industri kreatif digital.
“Kita Incubator Business Center (IBC), Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan Disperindag Provinsi Jawa Tengah berdiri sejak tahun 2017 sesuai dengan kebijakan baru gubernur,“ kata Hendry Sapto kepada Cendana News di acara Indonesia Comic Con 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (28/10/2018) malam.
Hendry membeberkan inkubator bisnis ini untuk pembinaan dan pengembangan industri kreatif digital. “Tujuannya membantu start-up atau wirausaha baru untuk tumbuh dan berkembang menjadi wirausaha tangguh, mandiri dan mampu bersaing secara global,“ bebernya.
Menurut Hendry, inkubator bisnisnya terdiri dari animasi, game, sofware, komik dan multimedia. “Visinya menjadi inkubator bisnis yang menghasilkan digitalpreneur,“ ungkapnya.
Hendry memaparkan misi inkubator bisnisnya, antara lain melakukan sosialisasi dan edukasi untuk mengembangkan potensi industri kreatif digital di Jawa Tengah. “Kita juga memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan serta fasilitasi sarana dan prasarana bagi start-up berbasis digital,“ paparnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan inovasi dan komersialisasi produk kreatif digital, serta mengupayakan akses pasar, permodalan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektualnya.
Hendry menyampaikan produk-produk tenantnya, House of Imagi Studio (komik), Noir Art House (komik), Playon Kreatif Studio (animasi) dan Flatpastel Entertanment (game android). “Tenant-tenant kita sanggup bersaing secara global dengan karya-karyanya yang memang tak perlu diragukan lagi,“ tegasnya.
Sayangnya, kata Hendry, tenant-tenantnya masih kekurangan modal dalam mengembangkan karya-karyanya. “Karena untuk memproduksi animasi berdurasi 10 menit saja biayanya sudah 50 juta, apalagi kalau film layar lebar yang durasinya panjang sekitar dua jam, tentu biayanya lebih besar,” pungkasnya.