Status Anak Krakatau, Tidak Pengaruhi Aktivitas di Selat Sunda
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di Selat Sunda, Provinsi Lampung, masih terus mengalami aktivitas vulkanik. Erupsi gunung tersebut masih terus terjadi, sejak Juni lalu.
Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan menyebut, erupsi GAK masih terjadi dengan intensitas normal. Sejak erupsi di Juni silam, status GAK masih dinyatakan level II atau waspada.
Sesuai dengan data Magma Volcanic Activity Report (VAR), laporan aktivitas gunung api khususnya GAK, pada periode pengamatan (17/9/2018) sejak pukul 00:00-06:00 WIB, terpantau normal. Gunung api aktif di Selat Sunda dengan ketinggian 305 meter di atas permukaan laut tersebut, kondisi terkini yang terpantau, cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah timur dengan suhu udara 25-26 °C dan kelembaban udara 74-78 %.
“Sesuai dengan kondisi terkini Gunung Anak Krakatau tersebut, status masih dinyatakan level II atau waspada, sehingga masyarakat tidak perlu panik meski tetap harus waspada terutama nelayan dan pelayaran,” terang Andi Suardi kepada Cendana News, Senin (17/9/2018).

Saat ini sudah diberikan rekomandasi kepada pemangku kepentingan, diantaranya agar masyarakat serta wisatawan, tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius dua kilometer dari kawah. Erupsi di kawah GAK merupakan aktivitas wajar, untuk pelepasan energi, setelah erupsi besar yang pernah terjadi pada September 2012 silam.
Selama erupsi GAK sejak Juni lalu, hembusan abu vulkanik mengarah ke Timur, di jalur penyeberangan kapal roll on roll off (Roro) pelabuhan Bakauheni ke Merak belum terjadi gangguan. Sejumlah kapal kargo, tanker, kapal penyeberangan tol laut pelabuhan Panjang ke Tanjung Priok yang menggunakan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II Selat Sunda masih normal.
Opung, salah satu nelayan di dermaga Muara Piluk Bakauheni Lampung Selatan menyebut, aktivitas GAK selama puluhan tahun belum pernah mempengaruhi kegiatan nelayan mencari ikan di perairan Selat Sunda. Nelayan yang sebagian besar adalah nelayan pencari ikan, hanya mengkhawatirkan debu vulkanik yang bisa mengganggu pernapasan.
Himbauan larangan mendekati kawasan GAK dalam radius dua kilometer sudah dipatuhi. Pada dasarnya, nelayan yang melakukan penangkapan ikan di Selat Sunda, harus selalu memperhatikan arah angin. Saat mendekati GAK, ketika hembusan angin mengarah ke Timur, nelayan menghindari mencari ikan di sebelah Timur GAK, agar terhindar dari debu yang mengganggu kesehatan mata dan pernapasan. Pola tersebut sudah diketahui nelayan setempat selama puluhan tahun, selama mencari ikan di dekat GAK.
Ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Bakauheni, Warsa menyebut, aktivitas pelayaran normal. Laporan aktivitas GAK selalu dipantau petugas Ship Traffic Control (STC). Perusahaan pelayaran, lebih fokus pada kondisi cuaca di lintas Selat Sunda, yang dominan dilanda angin kencang dan gelombang tinggi.
Warsa memastikan, nahkoda kapal roro tetap waspada saat berlayar di Selat Sunda. Selain erupsi, kondisi cuaca perairan Selat Sunda dengan kecepatan angin dan gelombang tinggi juga menjadi perhatian. Selama dua pekan terakhir, dampak angin kencang dan gelombang tinggi berimbas pada gangguan olah gerak kapal saat akan manuver sandar di sejumlah dermaga di pelabuhan Bakauheni.