Sistem Zonasi, Sekolah Swasta Harus Lebih Inovatif
Editor: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta meminta sekolah swasta lebih aktif untuk melakukan inovasi dalam meningkatkan mutu sekolah maupun kualitas lulusan agar mampu bersaing dalam perebutan kursi baru di setiap proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi.
Hal itu diperlukan mengingat semakin menyusutnya jumlah lulusan SD yang mendaftar ke SMP di wilayah kota Yogyakarta akibat kebijakan zonasi dalam PPDB. Sistem zonasi yang diterapkan secara nasional membuat sebagian besar calon siswa memilih mendaftar di sekolah wilayah kabupaten masing-masing, karena memiliki peluang lebih besar diterima.
“Padahal selama ini kota Yogyakarta banyak menerima siswa dari luar wilayah kota Yogyakarta, seperti dari Bantul dan Sleman, yang merupakan lemparan dari sekolah negeri. Namun dengan sistem zonasi, kini jumlah siswa dari luar kota Yogyakarta semakin berkurang. Akibatnya, banyak sekolah swasta yang mengeluh kekurangan murid baru,” ujar Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rochmat.

Rochmat menyebut, berdasarkan data yang ada, kuota daya tampung atau kursi siswa SMP di Yogyakarta selama ini tercatat melebihi daya tampung lulusan SD. Jumlah lulusan SD ada sebanyak 7200 siswa, sedangkan daya tampung SMP ada sebanyak 8400 kursi. Sementara perkiraan jumlah siswa penduduk kota Yogyakarta sendiri hanya sekitar 5000 orang saja.
“Artinya kan selama ini ada sekitar 2000-3000 siswa lebih yang merupakan siswa dari luar kota Yogyakarta, yang bersekolah di kota Yogyakarta. Kini mereka lebih banyak mendaftar di wilayah kabupaten masing-masing. Ini yang jadi persoalan,” katanya.
Sebagai pihak yang menaungi seluruh elemen, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta sendiri berupaya menyusun kebijakan yang tidak merugikan salah satu pihak. Misalnya dengan tidak menambah jumlah sekolah negeri di wilayah kota Yogyakarta, agar tidak semakin menambah beban sekolah swasta.
“Namun sekolah swasta juga harus kreatif. Jangan mau menjadi nomor 2 (di bawah sekolah negeri). Sekolah swasta harus lebih inovatif dalam mengembangkan diri agar memiliki kualitas yang setara dengan sekolah negeri. Dengan begitu calon siswa akan lebih memilih mendaftar di sekolah swasta dibanding di sekolah negeri. Ini sebenarnya justru menjadi peluang bagi sekolah swasta,” ungkapnya.