Sampah Laut, Kendala Pengelolaan Objek Wisata Bahari

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kebersihan lingkungan di sejumlah objek wisata pantai atau bahari menjadi dambaan bagi pengelola serta pengunjung.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh pengelola objek wisata bahari adalah sampah yang terbawa oleh arus laut menepi ke pantai.

Ibrahim Husin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lawok Kedu membenarkan kondisi pantai yang kotor kerap menjadi faktor tingkat kunjungan wisatawan ke objek wisata pantai Keduwarna di Kelurahan Sinar Laut Kecamatan Kalianda.

Ibrahim Husin menyebut, sampah laut yang menepi ke pantai dominan berupa sampah plastik yang berasal dari sungai, batang kayu serta beragam sampah lain yang sengaja dibuang sembarangan.

Ibrahim Husin, Ketua Pokdarwis Lawok Kedu yang setiap hari memperhatikan kebersihan pantai Keduwarna [Foto: Henk Widi]
Kesadaran warga yang kurang untuk tidak membuang sampah di laut menjadi faktor kotornya lingkungan pantai. Pengelola Pantai Keduwarna yang tergabung dalam Pokdarwis Lawok Kedu disebut Ibrahim Husin bahkan telah membersihkan area Pantai Keduwarna hingga bersih. Namun sampah masih kerap muncul setelah dibersihkan.

“Penyebab lingkungan pantai terkotori oleh sampah umumnya dari aliran sungai yang akhirnya terbawa ke laut. Selanjutnya terdampar di pantai salah satunya di Pantai Keduwarna meski dibersihkan setiap hari selalu muncul,” terang Ibrahim Husin selaku Ketua Pokdarwis Keduwarna, Kelurahan Way Urang Kalianda, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (22/8/2018).

Ia menyebut pada awal pembukaan Pantai Keduwarna Pokdarwis Lawok Kedu telah berhasil membersihkan sampah di pantai tersebut hingga 30 ton. Menggugah kesadaran warga untuk memperhatikan kebersihan lingkungan pantai bahkan telah dilakukan Pokdarwis dengan memasang imbauan larangan membuang sampah ke pantai.

Bekerja sama dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan pencegahan pembuangan sampah ke pantai dilakukan dengan membuat kotak sampah dan petugas pengangkut sampah.

Meski demikian, Ibrahim Husin yang kerap dipanggil Datuk Bawel karena “bawel” selalu mengingatkan warga menjaga kebersihan, sampah kerap berasal dari wilayah lain. Sebagai warga yang tinggal di pesisir pantai, ia menyebut, pola pergerakan arus laut ikut menyumbang intensitas volume sampah di Pantai Kalianda.

Sampah plastik disebutnya tidak hanya berasal dari wilayah Lampung Selatan melainkan dari wilayah Bandarlampung bahkan Provinsi Banten.

“Jika warga tidak lagi membuang sampah ke sungai, maka tidak akan ada sampah di laut. Saat musim kemarau ini sampah sedikit berkurang karena banyak sungai kering,” terang Ibrahim Husin.

Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, upaya menjaga kebersihan pantai dari sampah didukung dengan pemberian bantuan alat kebersihan. Alat kebersihan yang diberikan di antaranya sapu, serok sampah, kotak sampah, plang imbauan menjaga kebersihan.

Selain itu faktor kesadaran menjaga lingkungan menjadikan Pantai Keduwarna masih tetap bersih meski sampah terus dikirimkan dari laut ke pantai.

Kebersihan pantai Minangrua yang dikelola oleh Pokdarwis Minangrua Bahari Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni Lamsel [Foto: Henk Widi]
Ketua Komunitas Peduli Wisata (Pelita) Lampung Selatan, Yodistira Nugraha, menyebut, awalnya Pantai Keduwarna dipenuhi sampah. Dominan sampah nonorganik berupa plastik, botol kaca, besi dan sampah organik hasil buangan sampah pasar, bahkan pernah ditemukan.

Namun gerakan foto dan unggah pembuang sampah ke media sosial untuk memberi efek jera mulai diberlakukan. Aturan dari pemerintah untuk memberi denda bahkan masih belum cukup membuat jera para pembuang sampah.

“Kepedulian pemuda, masyarakat pemerhati wisata dan lingkungan bahkan sudah kita libatkan agar pantai di sekitar Kalianda tetap bersih,” terang Yodistira Nugraha.

Sejumlah kegiatan melibatkan komunitas The Lastday 29 pada awal tahun ini untuk pembersihan sampah dengan memberikan kantong plastik di sekitar Pantai Keduwarna. Selain itu kegiatan terakhir pada Minggu (19/8) bertajuk Menghadap Laut ikut menjadi upaya menjaga kebersihan lingkungan pantai.

Menghadap laut dimaknai oleh Pokdarwis Lawok Kedu dan komunitas Pelita untuk menjaga kebersihan pantai dari sampah melalui kegiatan bersih pantai dan menyadarkan masyarakat tidak membuang sampah ke laut.

Upaya menjaga kebersihan pantai juga terus dilakukan Pokdarwis Minangrua Bahari di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni. Edi Nuryadi, selaku anggota Pokdarwis Minangrua Bahari memastikan kebersihan objek wisata bahari tersebut selalu dijaga.

Penyediaan tempat sampah dan alat kebersihan bantuan dari Dinas Pariwisata Provinsi Lampung bahkan telah dimaksimalkan. Namun keberadaan Sungai Kepayang, Sungai Pegantungan, Sungai Sumbermuli kerap menjadi penyumbang sampah ke perairan.

“Pembersihan sampah dan menjaga pantai agar tetap indah dipandang mata selalu kami lakukan tapi kadang sampah berasal dari laut,” terang Edi Nuryadi.

Pantai yang kerap menjadi lokasi bertelur penyu batik dan penyu belimbing diakuinya kerap kotor oleh sampah kiriman. Sampah kiriman merupakan hasil sampah yang dibuang ke sungai dan terbawa ke laut saat ada gelombang terbawa ke Pantai Minangrua.

Edi Nuryadi menyebut, saat terjadi gelombang pasang sampah yang terbawa ke pantai bisa mencapai dua ton lebih dan selalu dibersihkan. Sampah organik yang kerap membusuk kerap menimbulkan aroma tak sedap sehingga cepat dibersihkan.

Sebagian pengunjung menikmati bentangan alam pantai Keduwarna Kalianda yang dikelola Pokdarwis Lawok Kedu [Foto: Henk Widi]
Kotornya pantai akibat sampah yang menumpuk, disebut Edi Nuryadi, selain bisa menurunkan jumlah kunjungan wisatawan juga mengganggu kesehatan. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan membuat sebagian warga masih membuang sampah ke sungai dan laut.

Imbasnya, pantai objek wisata ikut terdampak meski lingkungan di sekitar objek wisata telah diberi sosialisasi menjaga kebersihan lingkungan. Penyediaan kotak sampah juga dilakukan menghindari warga membuang sampah sembarangan agar pantai terjaga kebersihannya.

Lihat juga...