Rescue-Medis Asian Games Dapat Pujian

Ilustrasi Helikopter BNPB - Foto: Dokumentasi CDN

BOGOR – Tim Medis dan Tim Rescue Asian Games 2018 menuai pujian. Terutama saat mengevakuasi atlet Afghanistan menggunakan helikopter, di cabang olahraga Paralayang.

Manajer Pertandingan Cabang Olahraga Palarayang, Wahyu Yudha, di Bogor, Minggu (26/8/2018) mengatakan, cabang olahraga Paralayang memiliki tim rescue dan tim medis yang bergerak cepat, untuk memberi pertolongan pertama kepada atlet. “Cabang olahraga paralayang sudah menyiagakan tim medis dan tim rescue sejak hari pertama pertandingan sampai hari akhir nanti, kita juga menyiagakan satu helikopter dari Basarnas yang standby di sini 24 jam,” kata Wahyu.

Kemampuan tim rescue (pencarian dan penyelamatan) dan tim medis, yang cepat dan sigap memberi pertolongan pertama, teruji pada saat atlet Afghanistan dan China, mengalami cidera pada 22 Agustus 2018. Atlet putri Afghanistan, Lida Hozoori mengalami kejadian stall atau kehilangan daya angkut parasutnya saat pertandingan nomor ketepatan mendarat.

Stall terjadi ketika atlet melakukan kebanyakan break atau mengerem, ketika akan mendarat. Ketika payung kehilangan daya angkutnya, mengakibatkan terjadinya pendaratan secara keras, atlet Afghanistan terjatuh dari ketinggian kurang lebih 10 meter. “Lida mengalami fraktur sehingga harus dirujuk ke RSPAD,” katanya.

Evakuasi atlet Afghanistan dilakukan secara cepat menggunakan helikopter Basarnas, hal ini berdasarkan pertimbangan tim medis, memilih untuk merujuk ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Sementara itu, atlet China, Jianwei Wang, juga mengalami kejadian serupa. Payung atau parasut kehilangan daya angkut, akibat kebanyakan mengerem. “Atlet China sudah dipulangkan negeranya untuk dilakukan operasi,” kata Wahyu.

Wahyu mengatakan, tim medis dan rescue Paralayang, yang ditugaskan selama Asian Games 2018, telah menerapkan standar internasional dan baik dalam reaksi cepat pertolongan sejak hari pertama. Tugas tim rescue adalah melakukan evakuasi tehadap atlet yang mengalami kecelakaan. Terutama di cabang olahraga paralayang yang memiliki risiko terjadinya kecelakaan saat melakukan pendaratan.

Pada pada nomor Lintas Alam, atlet bisa mendarat di mana saja, sehingga tim medis dan tim rescue disebar kesejumlah titik, agar cepat menemukan dan mengevakuasi atlet yang melakukan pendaratan di luar landing. “Kita punya tim rescue dan medis yang kuat di cabang olahraga paralayang. Tim bekerja secara cepat dan sigap,” katanya.

Pelayanan kesehatan oleh tim medis adalah kerja sama dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dan Kemeterian Kesehatan, sedangkan Tim rescue melibatkan Badan SAR Nasional (Basarnas) serta relawan dari panitia. Total ada sekitar 70 orang petugas yang terlibat. (Ant)

Lihat juga...