Pengungsi Gempa Lombok Mulai Khawatir Musim Hujan

Ilustrasi - Dok: CDN
MATARAM – Korban gempa tektonik 7 Skala Richter 5 Agustus, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengkhawatirkan kesehatannya selama berada di tenda pengungsian.
Seperti yang diungkapkan Anisa (24), warga Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Ibu yang memiliki seorang balita itu mengaku khawatir, jika nantinya musim penghujan tiba.
“Tadi malam saja sekitar jam tiga, hujannya deras sekali. Kita jadi tidak bisa tidur, airnya ngalir masuk ke tenda, bagaimana ini ya? bingung mau ke mana?” kata Anisa, ketika ditemui di posko pengungsian Desa Kekait, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (16/8/2018) sore.
Anisa yang mengaku atap rumahnya rata dengan pondasi bangunan itu pun mengkhawatirkan kesehatan anaknya yang masih berusia balita.
“Anak saya dua hari ini tidurnya kurang. Di sini banyak nyamuk, kalau ada ‘minyak telon’, pak,” pintanya sembari mengibaskan selendang di atas tubuh anaknya yang sedang tidur lelap.
Begitu juga dengan Ahmad (32), warga Jambianom, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Ketika ditemui, dia terlihat sedang terbaring lemas dengan wajah pucat di atas sebuah tikar berteduhkan pohon mangga.
“Demam, Pak. Sudah dua hari. Sudah ke dokter,” kata istrinya sembari memijit kepala Ahmad.
Pascagempa mengguncang Pulau Lombok dan sekitarnya, banyak warga yang membangun tenda pengungsian darurat. Tidak hanya karena kondisi rumah warga banyak yang rusak berat, namun khawatir akan terjadi gempa susulan menjadi alasan mereka sampai bertahan di tenda pengungsian. (Ant)
Lihat juga...