Orang Tua ke Malaysia, Anak-anak di Solor Barat Putus Sekolah
Editor: Satmoko Budi Santoso
LARANTUKA – Banyak anak di Kecamatan Solor Barat yang terdiri atas 11 desa dan 1 kelurahan terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akibat orang tua mereka merantau ke Malaysia dan membiarkan anak diasuh sanak keluarga di kampung.
“Banyak sekali yang hanya tamat SMP saja dan tidak melanjutkan ke SMA sebab biaya pendidikan mereka tidak ada karena tidak dibiayai orang tua mereka. Bahkan anak-anak di sekolah saya saja banyak yang kesulitan beli seragam dan peralatan sekolah,” sebut Piter Kein, kepala sekolah SD Inpres Tanaedang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Kamis (23/8/2018).
Lebih banyak lagi yang setelah tamat SMA, kata Piter, terpaksa ikut merantau ke Malaysia dan bekerja di sana karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

“Orang tua mereka di rantau pun seolah-olah tidak memperhatikan biaya pendidikan. Bahkan banyak orang tua yang di tanah rantau menikah lagi sehingga tidak mengirimkan biaya hidup bagi anak dan istri di kampung,” sebutnya.
Kepala Sekolah SD Inpres Ritaebang, Yasinta Hayon pun berkata senada. Sebab hal ini terjadi di sekolah di mana anak-anak yang ditinggal orang tuanya merantau ke Malaysia membiarkan anak diasuh kakek dan nenek mereka di kampung halaman.
“Ada anak yang hanya menggunakan seragam sekolah yang sama selama dua tahun berturut-turut karena kakek dan neneknya tidak mampu membeli. Untuk makan sehari-hari saja mereka sangat kesulitan apalagi harus membiayai pendidikan cucu mereka,” ungkapnya.
Maka, saat ada beberapa pihak yang datang memberikan bantuan perlengkapan dan seragam sekolah bagi 160 murid di sekolah, kata Yasinta, pihaknya merasa bersyukur. Sebab, anak-anak sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari pihak luar.
“Kami selalu meminta bantuan kepada berbagai organisasi atau perkumpulan agar bisa membantu perlengkapan sekolah. Peralatan drum band saja merupakan sumbangan dari seorang anak muda asal Solor Barat yang menetap di Jakarta,” terangnya.
Noben da Silva, salah seorang pegiat dan pemerintah buruh migran serta perempuan mengakui bahwa banyak orang tua di Pulau Solor yang merantau ke Malaysia dan meninggalkan anak-anak mereka di kampung. Diasuh sanak keluarga, tidak memberikan biaya hidup, dan pendidikan bagi anak mereka.
“Suami yang pergi merantau pun tidak membawa serta istri dan anak sehingga saat berada di rantau. Banyak yang menikah kembali dan membiarkan istri dan anak mereka di kampung hidup terlantar,” sebutnya.
Istri dan anggota keluarga di kampung halaman pun, kata Noben, kehilangan kontak suami dan anggota keluarga karena ketika mereka menikah kembali maka otomatis akan memutus komunikasi dengan anggota keluarga di kampung halaman mereka.
“Ini yang membuat maksimal 10 persen saja anak-anak di Solor yang bisa melanjutkan kuliah mereka karena selain orang tuanya merantau, yang tinggal di kampung pun hanya memiliki pendapatan yang sangat minim atau bisa dikatakan miskin,” pungkasnya.