Nelayan Solor Barat Minta Bantuan Alat Tangkap
Editor: Mahadeva WS
LARANTUKA – Kesadaran nelayan di kabupaten Flores Timur (Flotim), untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, dan hewan serta biota laut semakin meningkat. Sejak 3 tahun terakhir, kondisi tersebut semakin terasa, terlebih setelah adanya Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas).
“Sejak terbentuk Pokmaswas, kami selalu menginformasikan ke Dinas Perikanan Flotim, bila ada ikan dan mamalia laut yang dilindungi terjaring pukat atau terdampar. Ikan dan mamalia laut tersebut pun dilepas kembali ke laut,” ujar Paulus Ileama Niron, ketua Pokmaswas Pedang Wutun, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Senin (13/8/2018).

Akibat banyaknya penyu, hiu paus serta pari manta yang terkena jaring nelayan, jaring nelayan pun sering rusak, dan terpaksa harus dijahit kembali. Bahkan beberapa nelayan terpaksa membeli baru, agar bisa pergi mencari ikan kembali. “Kelompok kami juga melesatrikan penyu dengan menetaskannya, lalu melepaskan kembali ke laut. Kami kesulitan untuk membangun tempat penetasan yang lebih layak, sebab selama ini hanya mengandalkan dana swadaya dari anggota sebanyak 10 orang,” ungkapnya.
Nelayan sudah bersemangat menjaga laut dan ekosistemnya, namun pemerintah belum membantu alat tangkap kepada kelompok-kelompok nelayan yang selama ini sudah peduli dan menjaga laut. “Kelompok nelayan seperti kami memang sangat membutuhkan bantuan alat tangkap, yang memang tidak terlalu mahal seperti pukat atau jaring, cool box untuk menaruh ikan serta perahu ukuran di bawah 10 Gross Ton,” tandasnya.
Bantuan untuk kelompok nelayan yang berpartisipasi menjaga ekosistem laut, disebut Paulus, bisa memacu semangat nelayanm, untuk terus menjaga kelestarian laut, dari pengakapan ikan dengan cara merusak. “Bila diberikan bantuan, maka nelayan merasa dihargai, dan akan bersemangat menjaga kelestarian ekosistem laut, sebab mereka merasa mendapatkan perhatian dan penghargaan dari pemerintah atas kerja keras dan niat baik mereka,” tuturnya.
Lurah Ritaebang, Urbanus Werang mengatakan, selama ini, nelayan Ritaebang masih menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan senar dan alat pancing sederhana, seperti pukat dengan perahu kayu yang dibuat sendiri. “Kesadaran untuk menjaga laut dan ekosistemnya sudah sangat bagus, sehingga pemerintah perlu memberikan bantuan alat tangkap, agar nelayan semakin bersemangat menjaga kelestarian laut. Mereka juga tidak menangkap ikan dengan cara merusak seperti bom atau racun potas,” sebutnya.
Selain Pokmaswas Pedang Wutun, ada juga kelompok nelayan lainnya di Ritaebang yang memang sudah sadar, dan selama ini menangkap ikan secara tradisional, bahkan dengan cara menembak dengan alat yang juga dirakit sendiri. “Rata-rata nelayan sangat membutuhkan alat tangkap, dan perlengkapan lainnya yang lebih layak agar penghasilan mereka juga bertambah. Selama ini mereka melaut hanya untuk makan dan sedikit saja hasil tangkapan dijual,” pungkasnya.