Kurang Air, Produksi Tembakau Lereng Sumbing Menurun
TEMANGGUNG – Produksi tembakau di kawasan lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tahun ini diperkirakan kurang maksimal. Hingga memasuki masa panen, terjadi kekurangan air sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tembakau.
Petani, Warga Dusun Bansari, Desa Prangkokan, Kecamatan Bulu, Siyamin, mengatakan sejak masa tanam, hanya terjadi dua kali hujan. “Karena kurang air dalam masa pertumbuhannya, maka tidak bisa tumbuh secara maksimal,” ujarnya, Kamis (2/8/2018).
Dalam kondisi normal dengan kecukupan air, pohon tembakau tumbuh tinggi, dengan jumlah daun bisa mencapai 21 hingga 23 lembar. Namun saat ini satu batang hanya ada sekira 15 lembar daun tembakau. Dengan berkurangnya jumlah daun tembakau, produksi tembakau rajangan akan berkurang.
Kendati demikian, dari sisi kualitas, tembakau tahun ini sangat bagus karena didukung dengan cuaca cerah. “Kalau cuaca cerah hingga akhir panen nanti, kemungkinan bisa muncul tembakau srintil yang merupakan tembakau kualitas terbaik, ciri khas tembakau Temanggung,” katanya.
Saat ini petani tembakau di Temanggung memasuki awal panen tembakau. Petani mulai memetik daun tembakau paling bawah yang sebagian sudah mulai mengering. Diharapkan, harga tembakau tahun ini bisa lebih baik bila dibandingkan tahun lalu. Panen tahun lalu, harga tertinggi tembakau milik Siyamin hanya mencapai Rp85.000 per kilogram. “Kebetulan tahun lalu masa panen belum selesai tetapi sudah turun hujan sehingga harga jatuh,” jelasnya.
Tahun ini Siyamin menanam 16.000 batang tembakau seperti tahun lalu. “Tahun lalu menghasilkan 23 keranjang tembakau kering, tahun ini diperkirakan produksinya turun. Namun dengan kualitas tembakau yang bagus kami berharap harganya lebih tinggi dari tahun lalu,” pungkasnya. (Ant)