Korban Gempa Lombok Tetap Memproduksi Gula Aren
MATARAM – Keluarga Jumain, warga Dusun Pelolat, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (25/8/2018), tetap menganggap gula aren sumber kehidupannya. Sehingga, meski menjadi korban gempa bumi, usaha tersebut tetap dijalankan.
Sejak pagi hari, Jumain bersama istri, dibantu anak-anaknya, telah bekerja membuat gula aren. Bahan baku didapatkan dari pohon nira yang berada tepat di belakang rumah. Jumain mengambil air nira dari pohon yang berada tidak jauh di belakang rumahnya dengan bambu yang kemudian ditampung ke jeriken.
Jeriken yang sudah dipenuhi air nira kemudian dibawa ke rumah untuk dibekukan dengan perapian alami di alam terbuka. Air nira yang sudah mengental kemudian diaduk-aduk, lalu dimasukkan ke dalam batok kelapa yang sudah di belah dua.
Anak-anaknya yang masih balita pun, tidak duduk dan ikut membantu mengambil batok demi batok kelapa, dan didekatkan ke wajan. Sang ibu memasukkan air nira yang sudah mengental ke batok itu. Pekerjaan bisa dilakukan setiap hari, tergantung kebutuhan. “Pohon nira memproduksi airnya terus,” kata Jumain, Sabtu (25/8/2018).
Jumain menyebut, gula aren dijual Rp25 ribu per batok kelapa. “Kita jual tidak mahal-mahal,” tandasnya.
Profesi itu digeluti untuk menyambung hidup sehari-hari, di samping kegiatan pertanian lainnya. Mereka menganggap gempa memang dikhawatirkan tapi kehidupan harus terus berjalan. Kekhawatiran jelas ada, mengingat rumah Jumain berada di bawah puncak Bukit Batu Layar, dan berada di kontur lereng curam. “Saat gempa, terasa kencang sekali. Tapi Alhamdulillah rumah masih berdiri, kami tetap selamat,” pungkasnya. (Ant)