Debu Vulkanik GAK Mengarah ke Perkampungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sebagian mengarah ke perkampungan nelayan di Kecamatan Rajabasa, mengakibatkan warga mengalami gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Tanpa kecuali sejumlah nelayan yang melakukan kegiatan dalam radius minimal dua kilometer dari GAK di Selat Sunda, kerap terpapar debu vulkanik gunung berapi yang tengah erupsi sejak Juni, lalu.
Umadi, menunjukkan masker [Foto: Henk Widi]
Sanusi, nelayan tangkap ikan dengan jaring di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, mengatakan, kualitas udara di wilayah tersebut menurun sejak GAK erupsi. Namun, hal demikian cukup teratasi dengan adanya pembagian masker gratis dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lampung Selatan.
Ia menyebut, pembagian masker dilakukan, saat debu Krakatau mengarah ke Timur, sehingga debu terbawa ke perkampungan nelayan.
Menurut Sanusi, sejumlah warga Desa Kunjir, Way Muli dan Batu Balak, juga mendapatkan bantuan masker, sebanyak 2000 buah, berasal dari PMI Lampung Selatan dan Puskesmas Rajabasa.
“Pemberian masker sangat membantu kami nelayan, karena dampaknya sangat terasa. Kami kerap dihujani pasir dan debu Krakatau ketika arah angin membawa debu erupsi anak Krakatau yang masih terus berlangsung hingga sekarang,” terang Sanusi, saat ditemui Cendana News, Jumat (17/8/2018).
Sanusi menyebut, perahu tradisional yang dipergunakan melaut juga kerap terpapar debu, sehingga ia harus membersihkan setiap hari. Dari perkampungan nelayan pesisir Rajabasa, aktivitas vulkanik GAK diakuinya saat kondisi cuaca cerah secara visual terlihat mengeluarkan debu dan asap berwarna hitam pekat. Namun, beruntung, dalam beberapa hari terakhir, debu letusan Krakatau mengarah ke Barat atau Samudera Hindia.
Nelayan lain warga Desa Way Muli, Umadi, menyebut, sejak GAK erupsi, sejumlah nelayan dilarang mendekat hingga radius dua meter demi keselamatan. Imbauan tersebut cukup beralasan, karena dirinya pernah mengalami, bahwa pasir dan batu bisa terlontar hingga radius satu kilometer lebih.
Pasir dan kerikil kecil menyerupai batu apung, disebutnya sangat berbahaya saat GAK erupsi. Meski melaut di sekitar GAK, ia dan sejumlah nelayan harus selalu memperhatikan arah angin, karena pasir dan debu mengganggu pernapasan dan mata.
“Selain berdampak buruk bagi kesehatan mata dan pernapasan, kalau terlalu dekat dengan Krakatau, perahu saya bisa penuh oleh debu,” terang Umadi.
Ia mengaku berterima kasih kepada pihak terkait, di antaranya PMI Kabupaten Lampung Selatan dan Puskesmas Rajabasa, yang telah membagikan masker gratis.
Ia menyebut, sebagian warga, khususnya nelayan, juga menyiapkan masker dengan menggunakan kain dari baju bekas dan kerap mengenakan kacamata saat berada di luar ruangan. Nelayan seperti dirinya, bahkan harus mengenakan kacamata khusus, agar tidak terpapar debu saat melaut.
Pantauan Cendana News, Gunung Anak Krakatau yang secara visual terlihat terus menyemburkan debu vulkanik setinggi kurang lebih 500 meter. GAK yang diapit Pulau Rakata dan Pulau Sebesi tersebut menyemburkan asap pekat dengan durasi sekitar 15 hingga 20 menit sejak pukul 16:00 WIB, dan sejumlah warga di pesisir Rajabasa menyebut hal tersebut sudah biasa.
Warga mengaku tidak terlalu khawatir dengan aktivitas erupsi GAK, namun selalu waspada saat debu vulkanik terbawa angin ke perkampungan warga.
Lihat juga...