Yudi Latief: Indonesia Alami Krisis Demokrasi Pasca-reformasi
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latief, Ph.D, menyebut Indonesia tengah mengalami krisis demokrasi pasca-reformasi, ditandai oleh lemahnya legitimasi dan inefisiensi.
“Indonesia tengah mengalami krisis demokrasi pasca reformasi. Hal ini saya sebut sebagai double crisis democracy, yakni lemahnya legitimasi dan inefisiensi,” simpulnya.
Hadir sebagai pembicara dalam acara peluncuran buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan, Yudi menyoroti tentang makna demokrasi di Indonesia terkait kiprah Bondan Gunawan dan Gus Dur dalam buku tersebut.
Pasca reformasi dengan terbukanya kran-kran demokrasi malah membuat kita menjadi gegar demokrasi.
“Ketidakmampuan membangun keseimbangan antara unity dengan diversity, antara semangat persatuan dengan penghargaan akan kemajemukan menjadi rangkaian lemahnya kita mengolah demokrasi itu sendiri,” tegasnya.
Yudi menyampaikan di dalam sistem ketatanegaraan kita, dimana amandemen UUD 1945 yang seharusnya menjadi acuan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik, malah menghilangkan beberapa unsur dalam keanggotaan di lembaga tinggi maupun tertinggi negara.
“Misalnya saja pergeseran makna keterpilihan dan keterwakilan. Dengan adanya penghilangan utusan golongan juga menjadi masalah kehilangan keterwakilan unsur-unsur masyarakat,” tandasnya.
Yudi Latief, termasuk seorang aktivis dan cendekiawan muda yang sangat kritis. Pemikirannya jernih dalam mengurai masalah keagamaan dan kenegaraan. Ia adalah Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), dan aktif sebagai dosen tamu di sejumlah pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan menyampaikan paparan terkait buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan, Yudi tak ketinggalan memberikan ucapan selamat kepada Bondan Gunawan.
“Selamat buat Mas Bondan atas terbitnya buku ‘Hari-Hari Terakhir bersama Gus Dur’ ini,” kata Yudi Latief mengawali pemaparannya sebagai pembicara dalam acara peluncuran buku tersebut di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Rabu malam (25/7/2018).
Lelaki kelahiran Sukabumi, 26 Agustus 1964, itu membeberkan bahwa buku ini diluncurkan tepat waktu pada momen-momen dimana para elit kita sedang blingsatan menjelang Pemilu.
“Saya ingin mengatakan sepintas tentang Mas Bondan sebagai manusia, sebutan yang sering dialamatkan pada beliau itu ‘Banteng yang Berkeliaran’ yang artinya Mas Bondan meski tumbuh dari lingkungan nasionalis tapi sebenarnya memiliki multi afiliasi koneksifitas yang banyak, termasuk koneksi yang baik dengan jenderal-jenderal Orde Baru, juga terkoneksi dengan berbagai lingkungan dari seniman-seniman sampai Nahdliyin,” bebernya.
Yudi menganggap Bondan Gunawan seperti Agus Salim yang dikenal dengan tokoh Islam tapi juga pernah masuk menjadi anggota Volksraad bentukan Belanda, beliau juga menjadi anggota Sarikat Islam dan anggota Muhammadiyah.
“Orang-orang yang multi afiliasi ini memang karena konektifitasnya yang luas biasanya sangat penting untuk mobilisasi sumber daya dengan kepingan-kepingan yang berserak, tapi biasanya orang-orang yang multi afiliasi di dalam situasi politik harus menentukan dianggap bukan bagian dari siapa pun, makanya cepat terlempar dari kekuasaan,” ungkapnya.
Nasib menjadi jembatan memang begitu, lanjut Yudi. Jembatan itu diperlukan untuk orang berlalu lintas tapi kalau sudah tidak digunakan diinjak-injak diabaikan.