Rupiah Anjlok, Harga Pakan Ikan Naik
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dirasakan sektor budidaya perikanan. Pelemahan nilai tukar rupiah berimbas pada kenaikan harga pakan ikan.
Ngatiran, salah satu pembudidaya ikan air tawar lele, nila dan emas di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan menyebut, harga pakan naik mengikuti dolar. Sebulan lalu, Dia menyebut harga pakan ikan untuk jenis biasa mencapai Rp260.000 persak (isi 50 kilogram). Kini harganya naik menjadi Rp275.000 persak.
Pakan ikan dengan kualitas bagus semula dibeli dengan harga Rp280.000, kini naik menjadi Rp300.000 persak. Akibat kenaikan harga tersebut, pembudidaya dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembesaran ikan air tawar. “Satu kali musim pembesaran sekitar dua bulan membutuhkan pakan enam sak atau tiga ratus kilogram. Sehingga bisa dikalikan saja pengeluaran untuk pakan yang naik,” terang Ngatiran, saat ditemui Cendana News, Jumat (27/7/2018).
Ngatiran menyebut, di tingkat pengecer, harga pakan ikan berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 tergantung kualitas. Ngatiran membeli dengan sistem karungan dari distributor. Kenaikan harga pakan disebutnya sudah terjadi dari tingkat distributor, sehingga Dirinya tetap membeli untuk pembesaran ikan yang dibudidayakannya.
Khusus untuk lele, Ngatiran menyebut kebutuhan pakannya untuk sementara masih bisa disiasati dengan pemberian dedak. Demikian juga jenis nila dan gurami, bisa diganti dengan pakan jenis daun talas serta daun singkong.
Dia berharap, nilai tukar rupiah bisa kembali menguat sehingga harga pakan bisa kembali turun. Sebagian bahan baku pakan yang didatangkan dengan cara impor menjadi pemicu kenaikan harga pakan. Meski harga pakan naik, peternak masih tetap menjual ikan ke pengepul dengan harga Rp17.000 perkilogram untuk lele.

Pakan campuran dibuat dari limbah penggilingan padi berupa dedak, limbah roti, keong mas dan terkadang ayam mati kemarin atau tiren. Semua jenis bahan dicampurkan dan dibuat menjadi pelet pakan apung. Dengan cara tersebut bisa menghemat hingga ratusan ribu untuk perkuintal pakan.
Pakan dibuat dengan proses penggilingan, selanjutnya dijemur dan disimpan untuk diberikan pada ikan yang dibudiayakan. “Membeli pakan saat kondisi harga pakan naik berimbas biaya produksi membengkak jadi harus disiasati dengan membuat pakan sendiri,” beber Rendi Antoni.
Selain pembudidaya ikan, pembudidaya udang vanme di Desa Bandaragung Kecamatan Sragi juga merasakan dampak kenaikan harga pakan. Susilo,salah satu petambak menyebut pakan udang berbagai merk saat ini dijual dengan harga bervariasi. Kenaikan disebutnya bisa mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 perkilogram. Susilo menyebut harga pakan udang dijual dari ukuran 20 kilogram hingga 50 kilogram. “Semua jenis pakan naik tapi belum banyak kemungkinan akan semakin melonjak jika dolar makin naik,” papar Susilo.
Susilo menyebut, untuk merk tertentu pakan udang vaname di level petambak ukuran 20 kilogram dijual Rp260 ribu. Jenis lain dijual dengan harga Rp280 ribu untuk ukuran 20 kilogram. Sebagian pembudidaya udang, Susilo memilih pakan dengan harga terjangkau. Melonjaknya harga pakan udang cukup membuat petambak khawatir, pasalnya harga udang anjlok ditambah kemarau mulai melanda berimbas udang rentan penyakit.