Islam Moderat, Solusi Menjaga Perdamaian

Editor: Mahadeva WS

MATARAM – Terjadinya konflik dan peperangan di sejumlah negara Islam di dunia, khususnya Timur Tengah, hingga berkembangnya aliran pemahaman Islam yang mengedepankan ekstrimisme, yang berujung pada tindakan terorisme, disebabkan karena hilangnya pemahaman tentang moderasi Islam.

Akibatnya kelompok, organisasi maupun aliran yang ada, saling mengklaim diri menjadi yang paling benar. Menyalahkan kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya, serta tidak bisa menerima perbedaan. “Banyak negara Islam di Timur Tengah tetap berkonflik sampai sekarang disebabkan karena tidak bisa menerima perbedaan” kata Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia yang juga Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, H.M. Zainul Majdi di acara Konfrensi Internasional Moderasi Islam Islamic Center Mataram, Jumat (27/7/2018).

Menurut Majdi, Islam moderat atau washatiyatul Islam, yang selama ini berkembang di dunia, dalam prespektif Ahlussunah wal Jama’ah terbukti menjadi solusi, dan mampu memberikan kedamaian dalam kehidupan umat manusia. Utamanya umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemikiran Ahlussunah wal Jama’ah, melalui para pendiri-nya, telah banyak melahirkan karya yang tidak hanya bermanfaat bagi umat, tapi juga memberikan manfaat besar bagi Indonesia.  “Ketika moderasi Islam mulai dilupakan, ketika tidak lagi menjadikan washatiyatul Islam sebagai poros pemikirannya, maka mulailah terasa kegelisahan di tengah-tengah kita,” ungkapnya.

Karena itulah, seluruh anak bangsa di Indonesia hendaknya mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di sebagai negara-negara Islam. Hilangnya pemikiran Islam moderat, dan mulai tumbuh suburnya pemikiran ekstrim, menyebabkan negara negara, seperti Syuriah, Iraq dan sejumlah negara di Timur Tengah lain dilanda peperangan yang berkepanjangan.

Sebagai akibat dari itu semua, peradaban yang telah dibangun dengan fondasi kokoh dan telah dicapai akan hancur. Karena itulah Majdi mengajak seluruh umat, dan seluruh elemen bangsa, untuk menjadikan modernisasi Islam sebagai perekat persatuan, di tengah keberagaman yang berkembang di Indonesia. “Mari kita rapatkan barisan, mari kita kokohkan persaudaraan. Rasanya yang mampu merekatkan itu semua adalah pemikiran washatiyatul Islam,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua KIMI Fauzan Zakaria  mengatakan, KIMI dilaksanakan bertujuan untuk mengali dan mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, ramah dan damai. Ha itu seperti tercermin dalam Islam wasatiyah. Keberadaanya untuk menanggulangi dan membendung ekstrimisme dan radikalisme dalam beragama.

Konsep Islam Wasatiyah dan imlementasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengukuhkan pandangan Ahlussunah wal Jama’ah, yang bercirikan moderat dalam pemikiran dan sikap beragama. Sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. “Konfrensi internasional tidak semata kepentingan alumni timur tengah, justru sebagai bentuk kontribusi bagi bangsa baik dalam hal pemikiran maupun kegiatan ekonomi Islam di NTB,” pungkasnya.

Lihat juga...