Review Film 22 Menit, Aksi Sigap Polisi Menumpas Teroris
Editor: Mahadeva WS
JAKARTA – Masih hangat diingatan kita, peristiwa bom Sarinah pada 14 Januari 2016. Sebuah kejadian yang begitu sangat mengejutkan, karena kejadiannya pada siang hari, saat jam sibuk kerja pada pukul 10.40 WIB.
Terjadi di seputar Sarinah, daerah perkantoran yang letaknya dekat dengan Istana Negara. Aparat keamanan harus mengerahkan banyak personil untuk bertindak super cepat. Dan hanya butuh waktu singkat, 22 menit untuk menumpas habis para teroris. Demikian yang mengemuka dari film 22 Menit.
Film diawali adegan ledakan bom di sebuah gerai kopi yang membuat api berkobar. Kemudian, puing-puing bangunan dan debu tampak bertebaran. Suara mendenging, dan teriakan para korban ledakan bom terdengar begitu sangat memilukan. Setelah itu, di layar tampak gambar animasi jam digital yang menunjukkan waktu pukul 10:40 WIB. Jam bergerak mundur beberapa menit untuk menampilkan sejumlah flashback sebelum ledakan terjadi. Tayangan menghadirkan beberapa tokoh yang bersinggungan langsung dengan peristiwa ledakan bom, yakni polisi dan beberapa orang yang menjadi korban ledakan bom.
AKBP Ardi (Ario Bayu), seorang polisi yang juga merupakan anggota unit antiterorisme, terlihat sedang menyiapkan sarapan pagi untuk puterinya di rumah dan akan bersiap-siap untuk mengantarkannya ke sekolah. Seorang sosok polisi yang kebapakan yang begitu dekat hubungan emosional dengan anaknya.
Mitha (Hana Malasan) seorang karyawan, tengah sibuk dengan jadwal pertemuannya. Dia hangout di Starbucks dengan mata tetap menatap ke laptop dan handphone menempel terus di telinganya, meski sesekali mencuri-curi pandang pada John (Hans de Kraker), seorang bule yang tampak tak jauh dari tempat duduknya. Ia begitu sangat menikmati kerjanya yang santai sambil cuci mata memperhatikan bule yang menurut penilaiannya sangat menarik hati.
Anas (Ence Bagus), seorang office boy yang kerja di sebuah kantor yang terletak di sekitar Sarinah. Pagi itu Anas sedang sarapan sambil berbincang-bincang dengan Hasan (Fanny Fadillah), kakaknya, dan ibunya di rumah mereka yang sederhana. Anas hendak membantu kakaknya itu untuk menjadi office boy juga di tempatnya bekerja. Anas mengingatkannya untuk menyiapkan berkas-berkas lamaran dan agar datang ke Sarinah pagi itu juga.
Firman (Ade Firman Hakim), seorang polisi lalu lintas. Saat peristiwa bom terjadi, tengah bertugas di pos polisi Sarinah, yang kemudian menjadi target ledakan bom teroris. Firman sedang galau karena ia hendak dimutasi ke daerah perbatasan Indonesia-Filipina, dan hubungannya dengan Sinta (Taskya Namya), kekasih sekaligus calon istrinya, ditengarai terancam bubar.
Dalam sebuah adegan, Firman yang sedang berada di pos polisi di-bully rekan-rekannya sesama polisi. Bahkan ketika Dessy (Ardina Rasti) melanggar rambu lalu lintas, Firman tampak meladeni kecerewetan Dessy yang merasa tidak bersalah dan ingin cepat pergi dan tidak mau ditilang. Dessy mencoba menyuap, tapi Firman tetap tegas menilangnya.
Adapun Sinta, kekasihnya yang sedang berada di kantor, tampak juga sama galaunya. Sinta sedang membahas permasalahannya bersama seorang teman. Sinta bingung memikirkan Firman yang hendak dimutasi ke daerah perbatasan Indonesia-Filipina yang akan berimbas dengan hubungan jarak jauh.
Begitu tahu ada bom meledak, Ardi sebagai anggota pasukan anti terorisme yang tengah lewat jalan protokol Jakarta cepat tanggap dan berani menghadapi kelompok teroris. Ardi tidak sendirian, satuan pasukan khusus anti teror langsung turun untuk cepat menangani teroris.
Film ini cukup merepresentasikam kerja cepat polisi menangani teroris. Eugene Panji dan Myrna Paramita, dua sutradara yang menyutradarai film ini dapat mengemasnya dengan cukup baik. Adegan menegangkan dan dramatis dapat ditangani dengan cukup baik.
Alur ceritanya cukup mengalir lancar, meski maju-mundur adegannya tetap berpatokan pada waktu bom meledak sebagai pusat cerita. Husein M Atmodjo dan Gunawan Raharja, dua penulis skenario dapat menata cerita dengan cukup baik. terlebih pada penggarapan cerita Firman, seorang polisi dengan kekasihnya.
Sayangnya, mereka alpa mengekplorasi sosok teroris yang tidak diceritakan seperti karakter polisi dan para korban bom. Hal itu membuat film ini tampak timpang dan tidak seimbang. Apalagi para pemeran teroris tampak seperti pemeran yang sekedar hanya lewat saja. Padahal, ini film tentang teroris, yang tentu tidak melulu mengeksplorasi sosok polisi saja.
Akting Ario Bayu tampak begitu sangat meyakinkan sebagai seorang polisi yang juga merupakan anggota unit antiterorisme. Sosoknya penuh wibawa dengan kesigapan gerak dengan aksi cepatnya dalam menangani teroris. Begitu juga akting Ade Firman Hakim yang cukup pas berperan sebagai polisi muda yang bertugas mengatur lalu lintas.
Sedangkan, Ence Bagus dan Fanny Fadillah, yang berperan sebagai kakak beradik, cukup mewakili sosok masyarakat kalangan bawah sebagai karyawan bawahan yang harus survive hidup di Jakarta yang begitu sangat tinggi biaya hidupnya. Salah satunya menjadi korban bom yang seperti menggenapi puncak permasalahan kompleks yang dihadapinya.
Menyaksikan film ini, kita seperti diingatkan untuk hati-hati dalam melangkah. Tragedi bom di Indonesia sudah terjadi di mana-mana. Film ini bisa dibilang keberpihakan sineas pada polisi dalam aksi tugasnya menumpas teroris. Memang dalam konteks wacana kenegaraan dan kemasyarakatan haruslah demikian adanya.
Tapi dalam konteks karya kreatif, mestinya juga menyentuh dan menggali lebih dalam mengenai sosok teroris. Sosok yang memiliki doktrin kerja dengan misi tuntas, yang berujung pada kematian, bukan saja kematian orang lain, tapi juga kematian pada dirinya sendiri. Dengan penggarapan utuh, akan menyadarkan masyarakat untuk tidak terjerumus pada doktrin teroris. Doktrin mengimingi-imingi surga dengan melakukan pengeboman yang menimbulkan banyak korban. Sementara untuk mendapat surga, harus banyak beramal, beribadah dan melakukan kebajikan sebagaimana yang ditetapkan Tuhan.