Kulit Kabau Solusi Basmi Hama Ulat Krop

Editor: Mahadeva WS

BENGKULU – Pengajar di Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu Obel. S. P, M.P, menemukan cara untuk mengatasi serangan hama ulat krop. Hama tersebut biasa ditemui di tanaman famili Brassicaceae seperti kubis, kubis bunga, petsai dan lobak.

Pengajar di Program Studi Budidaya Tanaman Hortikultura, Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong, tersebut, menguji tumbuhan yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. Tumbuhan kabau (Archidendron Microcarpum), yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat dengan jengkol, sudah diteliti efektif untuk mengendalikan beberapa jenis hama.

Dari buku yang ditulis oleh Simmond, salah satu cara untuk mendapatkan kandidat tanaman insektisida nabati, dengan pendekatan hubungan kekerabatan. Hal itu bisa dilakukan dengan memilih tanaman yang memiliki famili tumbuhan yang telah diteliti kimiawi dan bioaktivitasnya. Penelitian dari senyawa-senyawa seperti alkaloid, glikosida, steroid dan flavonoid, seluruh zat tersebut ditemukan pada tanaman jengkol. Keberadaan zat tersebut efektif mengendalikan hama.

Tanaman kabau yang telah dipisahkan antara biji dan kulitnya – Foto Dokumentasi Obel / M Noli Hendra

Riset dilakukan dengan melihat ekstrak kulit buah kabau. Riset dilakukan pada uji tapis dengan konsentrasi yang sama, menunjukkan hasil mortalitas larva C. Pavonana yang lebih tinggi dibandingkan dengan mortalitas larva pada ekstrak biji kabau.

Meskipun dengan tingkat masih dalam kategori yang rendah. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya kekeliruan dalam melakukan ekstraksi seperti penggunaan pelarut etanol 96 persen dan pengadukan yang dilakukan secara manual. Kesalahan tersebut mengakibatkan, senyawa yang terdapat di dalam bahan tidak keluar dan tidak terikat dengan sempurna.

“Ekstrak yang berasal dari kulit buah kabau dinyatakan aktif sebagai insektisida karena pada konsentrasi 0,5 persen dapat mematikan larva C. Pavonana di atas 50 persen dan akan digunakan untuk pengujian selanjutnya,” tambah pria kelahiran Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat tersebut kepada Cendana News, Senin (30/7/2018).

Dari penelitian hasil tersebut, kulit buah kabau memiliki kandungan senyawa yang memiliki kemampuan lebih tinggi untuk mematikan serangga. Akan tetapi, untuk ekstrak yang berasal dari biji kabau belum tentu bisa dikatakan tidak aktif, kemungkinan masih dapat membunuh serangga.

Namun kandungan senyawanya rendah atau tidak terikat dengan sempurna pada saat ekstraksi. Selanjutnya, ketika dilakukan pengaplikasian insektisida nabati ekstrak kulit buah kabau pada tanaman kubis disemi lapang, hasilnya berbanding lurus antara tinggi rendahnya mortalitas larva dengan rata-rata berat kubis yang di panen.

Kondisi itu, dimungkinkan terjadi karena banyaknya larva yang mati pada saat pengaplikasian. Begitu juga dengan kondisi sebaliknya, ketika pemakaian konsentrasi semakin sedikit ataupun tidak sama sekali, maka memungkinkan tingkat kerusakan akan semakin tinggi dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang berakibat pada menurunnya hasil panen.

“Cara saya mengelolah tanaman kabau itu, dengan memisahkan kulit dengan biji kabaunya. Kulit dijemur dan dicincang lalu di cairkan dengan cara diblender. Jadi pada penelitian itu, dari dua kilogram kulit babau, saya mendapatkan sekian mililiter larutan ekstrak. Lalu, untuk dua mililiter itu dicampurkan ke air sebanyak satu liter. Setelah diaduk, barulah disemportkan ke tanaman yang memiliki hama ular krop,” paparnya.

Keberadaan ulat krop dan seranga pada tanaman kubis setelah diinvestasikan kemungkinan juga menjadi faktor dari rata-rata berat krop kubis yang dipanen. Ulat krop yang menyerang tanaman kubis pada titik tumbuh akan merusak krop yang mulai terbentuk. Meskipun pada beberapa hari kemudian pada bekas serangan ulat krop, tanaman kubis masih bisa membentuk krop baru, namun, C. pavonana cenderung memakan bagian krop dan titik tumbuh. Hal itu berakibat, tanaman tidak mampu membentuk krop yang merupakan bagian yang akan dipanen.

“Jadi ekstrak kulit buah kabau yang diaplikasikan pada tanaman kubis dengan berbagai tingkatan konsentrasi disemi lapang, tidak menunjukkan gejala fitotoksisitas sehingga aman digunakan sebagai insektisida nabati. Hal ini dimungkinkan karena kuatnya jaringan daun tanaman kubis dan rendahnya kandungan senyawa penyebab fitotoksik,” ujarnya.

Tumbuhan kabau (Archidendron Microcarpum) mempunyai hubungan kekerabatan dekat dengan jengkol, yang sudah diteliti efektif mengendalikan beberapa hama. Soal bahan, kabau juga banyak ditemukan di Bengkulu, dan bahkan untuk kulitnya pun sangat banyak terbuang saja di pasar.

Selain itu, Obel menyatakan, di Indonesia hama tersebut merupakan hama utama pada tanaman kubis. Hama tersebut berimbas pada kehilangan hasil panen yang mencapai 10 persen hingga 100 persen. Dengan kondisi itu, keberadaan hama tersebut sangat merugikan petani sehingga pelu dilakukan tindakan pengendalian.

Dalam konsep pengendalian hama terpadu (PHT), penggunaan insektisida kimia sintetik merupakan alternatif terakhir dan penggunaannya harus bijaksana. Untuk itu, perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif dengan insektisida nabati, seperti penggunaan kulit kabau.

Lihat juga...