Ikuti Labuh Laut Sembonyo, Nelayan Trenggalek Libur Melaut

Ilustrasi perahu nelayan ditambat - Foto: Dokumentasi CDN

TRENGGALEK – Seluruh nelayan di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menghentikan segala aktivitas melautnya. Libur dilakukan selama tiga hari semenjak Sabtu (28/7/2018) hingga Senin (30/7/2018) malam.

Libur tersebut dilakukan bukan karena gangguan cuaca, namun demi menghormati ritual adat setempat, labuh laut Larung Sembonyo. Acara ritual tersebut telah digelar Minggu (29/7/2018) lalu. Lebih dari 250 unit kapal jenis slerek (porse seine) dan 300-an kapal pancing, memilih melabuh jangkar di kolam-kolam labuh dermaga.

Kalaupun ada aktivitas kapal, yang dilakukan dalam rangka memeriahkan kegiatan larung sesaji sedekah laut. Kapal tersebut mengangkut ratusan penumpang yang ingin menyaksikan proses larungan hingga ke batas teluk dengan perairan dalam (laut bebas).

“Ini sudah menjadi kesepakatan sosial antarnelayan di (Pelabuhan) Prigi. Bahwa selama gelaran Larung Sembonyo tak boleh ada yang melaut,” kata Ketua Panitia Labuh Laut Larung Sembonyo, Sukariyanto, Senin (30/7/2018).

Aturan tidak melaut selama tiga hari berturut itu konon menjadi bagian tradisi yang dianut nelayan di Teluk Prigi sejak lama. Maksud penghentian adalah, mencegah ada nelayan yang memanfaatkan kesempatan berburu ikan di saat mayoritas nelayan lain fokus menyiapkan pesta adat dan labuh laut. Acara ritual tersebut digelar tiga hari berturut, mulai Sabtu (28/7/2018) hingga Senin (30/7/2018).

Rangkaian acara diawali dengan kegiatan keagamaan dan sosial, seperti salawatan karena mayoritas warga pesisir Prigi beragama Islam, pemberian santunan 125 anak yatim-piatu, dan pengajian yang digelar pada Sabtu (29/7/2018). Puncaknya, prosesi larung sembonyo yang digelar di dermaga utama Pelabuhan Prigi.

Acara labuhan diselingi arak-arakan buceng lanangbuceng wadon dan hiburan campursari-dangdut. Seluruh rangkaian acara dalam rangka tradisi sembonyo di Pelabuhan Prigi ditutup pada Senin (30/7/2018) dengan acara pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang masih menjadi hiburan favoritas warga Trenggalek. “Acara sembonyoan ini menghabiskan anggaran kurang lebih Rp200 juta yang merupakan hasil patungan seluruh nelayan, serta dukungan sponsor,” tambah Sukariyanto.

Bupati Emil Elestianto Dardak maupun Wabup Mochammad Nur Arifin tak terlihat hadir dalam ritual adat terbesar di Trenggalek yang sebelum-sebelumnya selalu dihadiri kepala daerah terebut. Camat Watulimo Retno Wahyudianto mengatakan, bupati tidak bisa hadir lantaran sedang tugas dinas luar kota memenuhi undangan kegiatan Presiden Joko Widodo di Makasar, Sulawesi.

Sementara Wabup M Nur Arifin juga sedang berkegiatan di luar kota yang jadwalnya disebut Retno bersamaan dengan puncak acara larungan di Prigi. “Semoga meski tanpa kehadiran beliau berdua, pelaksanaan labuh laut larung sembonyo yang sudah menjadi adat nelayan ke depan akan lebih berkembang lagi dan semakin baik, sehingga bisa menarik wisatawan,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...