68 Calon Paskibraka Gelar Latihan Pertama

Editor: Mahadeva WS

DENPASAR – 68 calon Paskibraka 2018 Bali menggelar latihan perdana di Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar, Senin (30/7/2018). Pelatihan baris-berbaris dilakukan oleh pelatih gabungan dari TNI dan Polri.

Kepala Bidang Pemberdayaan Dispora Provinsi Bali I Gede Ketut Seputra Ariadi menjelaskan, para calon paskibraka tersebut sudah melalui seleksi ketat. “Sebelumnya mereka mengikuti seleksi di tingkat kabupaten dan provinsi secara ketat. Dari hasil seleksi yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Bali, ketemulah calon sebanyak 68 siswa paskibraka,” ucap Ariadi, Senin (30/7/2018).

Ariadi menambahkan, calon paskibraka tersebut akan dibagi menjadi pasukan pengiring dan pasukan inti. Sementara untuk petugas pengawalan dilakukan langsung oleh anggota TNI dan Polri. “Karena di senayan juga dilakukan demikian, jadi setiap daerah masih memungkinkan terdapat banyak personil TNI dan Polri,” imbuh Ariadi.

Koordinator pelatih Paskibraka, Peltu Dewa Kadek Kusuma Negara.-Foto: Sultan Anshori

Koordinator pelatih Paskibraka, Peltu Dewa Kadek Kusuma Negara mengatakan, metode pengajaran yang diberikan secara umum sama seperti tahun sebelumnya. Para calon paskibraka tersebut mengikuti latihan fisik berupa lari, sit up, push up yang bertujuan untuk membuat mental serta postur dan kaki yang kuat.

“Sebelum latihan kita laksanakan lari stressing, terus setengah hari jam 12 kita lari siang sore setelah kegiatan lari siang terus stressing, kemudian sit up dan push up untuk penguatan badan mereka. Karena tugas yang mereka emban cukup berat, kelihatannya saja sederhana. Kesalahan sedikit saja sudah semua orang bahkan dunia melihatnya. Oleh sebab itu kita bekali mereka dengan fisik yang kuat. Karena hari ini mereka mulai latihan, wajar jika mereka ada rasa kaget dengan kegiatan yang tiba-tiba seperti itu banyak yang kram pusing,” jelas Peltu Dewa Kadek Kusuma Negara.

Selain latihan fisik, pola makan juga diatur selama berada di asrama. Dengan makanan yang bergizi dan pengawasan tim medis. Termasuk pola tidur mereka akan diatur dengan sedemikian rupa, yang bertujuan agar mereka biasa dengan pola hidup disiplin. “Mereka harus sudah tidur setelah kegiatan malam terakhir jam 10 malam. Pagi jam lima mereka sudah bangun dan dilanjutkan dengan aktivitas lain seperti sembahyang, senam dan lain-lain,” jelas Kusuma Negara.

Lihat juga...