Film Nyanyian Anak Dibintangi Widi Dwinanda, Kritisi Orangtua

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Film tak hanya hiburan semata, tapi juga bisa memberi pesan moral dan menginspirasi. Seperti film pendek produksi Mini Onsteam berjudul ‘Nyanyian Anak’ yang menyiratkan pesan pada orangtua untuk peduli dan perhatian pada anaknya yang sedang mengalami masa tumbuh kembang.

“Dalam film ‘Nyanyian Anak’ ini, saya berperan sebagai ibu-ibu sosialita yang sangat eksis sekali dengan media sosial, yang keenakan dalam memanfaatkan teknologi sampai akhirnya mengabaikan hubungan internal dengan anak,” kata Widi Dwinanda kepada Cendana News, seusai nobar film ‘Nyanyian Anak’ di Bioskop CGV, Pacific Place, Jakarta (23/7/2018).

Perempuan kelahiran Cianjur, 10 Januari 1988 itu membeberkan karakter ibu-ibu sosialita yang dilakoninya juga punya ambisi anaknya untuk mengikuti banyak lomba dalam mewujudkan impiannya.

“Masalahnya, itu sebenarnya bukan impian dan keinginan anaknya, sehingga anaknya protes dan kemudian memberontak, sampai sang anak lari dari les,” beber putri pasangan Bambang Sunarko dan Noor Noorlaela ini.

Terlibat dalam film ini, Widi kebetulan sudah beberapa kali kerjasama dengan Ita Sembiring, produser, penulis skenario dan koordinator casting film ‘Nyanyian Anak’, dari mulai teater musikal, jadi tidak ada casting.

“Kita sudah lama kerjasama baik teater maupun film, jadi dia langsung ngajak saya untuk main film ini,” ungkap peraih penghargaan Pemeran Wanita Terpuji di Festival Film Bandung (FFB) 2015 untuk kategori Film Televisi melalui FTV biopik Ibu Een Guru Qolbu.

Untuk menjalin chemistry dengan pemain lain, Widi mengaku tidak mengalami kesulitan karena sudah terbiasa main bareng mereka.

“Kebetulan yang main teman-teman juga, ada beberapa kali main bareng dalam film sebelumnya, jadi sudah tahu bagaimana dalam menjalin chemistry karena sudah terbiasa bukan film pertama, apalagi kita juga sudah main bareng saat main teater,” papar artis yang aktif di Teater Karsa, Paduan Suara Vocsa dan Merpati Putih.

Widi mengaku sudah puluhan kali main film indie maupun film mainstream, seperti di antara film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Indera Keenam (2016), hingga Hujan Bulan Juni (2017).

“Dulu sebagai anak angkat Soekarno yang diperankan Ario Bayu, yaitu anak Ibu Inggit, Ratna Djoeami,” terangnya.

Obsesi Widi ingin dapat peran film musikal besar karena menantang bagi dirinya yang bukan penyanyi. Jadi ia bisa mengeksplorasi seluruh kemampuan aktingnya dalam dialog dengan bentuk nyanyian, dan otomatis ia harus memperluas skill menyanyi sebaik mungkin.

“Sebenarnya saya suka sekali akting, jadi apapun peran yang dikasih, saya suka, paling yang ingin saya gali lebih dalam adalah kemampuan dimana ekspresi dan penjiwaan lebih digali dibandingkan banyaknya dialog, misalnya peran yang aneh-aneh seperti peran psikopat yang menantang di luar saya banget,” tuturnya.

Harapan Widi terhadap film ini dapat dinikmati banyak orang, dan menginspirasi. “Dari film ini membuka pintu kesempatan lebih luas terbuka bagi kita untuk berkarir dan mengembangan diri dalam dunia perfilman,” harapnya.

Perfilman Indonesia, kata Widi, sekarang sudah maju dan berkembang. “Banyak sekali genre-genre baru dan sudah banyak film Indonesia yang go internasional, dari segi gambar dan teknis sudah ke arah yang jauh lebih baik, meski masih banyak juga film Indonesia yang terjebak memproduksi film yang asal laku di pasaran tanpa ada pesannya, tapi ada juga yang sudah mementingkan sisi kualitas sinematografinya,” tegasnya.

Widi berharap film Indonesia ke depan semakin banyak yang membuat film out of the box yang tidak mengikuti pasar.

“Membuat film yang terbaik, sehingga pasar yang mengikuti dan mengapresiasi apa yang kita buat, selama kita membuatnya dengan hati dan dengan semaksimal mungkin, insya Allah, film Indonesia ke depan akan semakin lebih maju dan berkembang lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...