Film Kafir, Putri Ayudya Ingin Perannya Dikenang

Editor: Satmoko Budi Santoso

Putri Ayudya (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Putri Ayudya termasuk aktris watak yang mampu memerankan karakter dalam film-film yang dibintangi dengan sangat baik. Seperti dalam film horor produksi Starvision berjudul ‘Kafir’, ia mampu berakting dengan cemerlang.

Kecemerlangan aktingnya tentu karena ia memang sudah akrab dengan dunia teater sejak SMA, dimana aktingnya telah lama terasah. Bahkan saat kuliah ia mendirikan Teater Psikologi (Teko), bersama kawan-kawan angkatan 2006 dan 2007 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

“Dalam film ini, saya berperan sebagai Ibu Sri seorang ibu dan istri idaman, dia sayang banget dengan keluarganya, pintar masak, ayu meski sudah berumur tapi tetap menjaga penampilan,“ kata Putri Ayodya, seusai press screening film Kafir di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2018).

Perempuan kelahiran Jakarta, 20 Mei 1988, itu membeberkan semua karakter dalam film ini menyimpan misteri masing-masing.

“Buat aku, Ibu Sri seperti kata pepatah, air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan,” beber artis yang juga seorang pencinta alam dan menjadi presenter acara Jejak Petualang.

Mendapat peran dalam film ini, awalnya Putri ditelepon film maker yang mengajak dirinya untuk main dalam film ini.

“Katanya dia pernah melihat aku main film Pingky Promise. Meski peranku sangat kecil hanya dua scene dan kemudian menginginkan saya untuk main film ini,“ ungkap Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2010 ini, yang juga terpilih menjadi Puteri Intelegensia Indonesia 2011 pada pemilihan Puteri Indonesia 2011 dan finalis Wajah Femina 2008.

Untuk mendalami film ini, Putri menonton beberapa film horor yang menjadi referensinya.

“Saya tidak mau menonton film Kafir yang terdahulu yang dibuat pada tahun 2002 karena aku tidak mau jadinya dimirip-miripin. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang sudah jadi ciri khas milik orang lain,” papar artis yang menjadi duta Taruna Siaga Bencana (Tagana) di bawah arahan Kemensos.

Tapi Putri mengharuskan dirinya untuk mencari referensi film-film horor karena ini film horor pertama kali yang diperankannya.

“Karena saya pernah main film genre horor jadi aku memang harus banyak belajar perihal teknis mengenai ekspresi tertentu kalau sedang takut,” tuturnya.

Menjalin chemistry dengan aktor senior, seniman dan budayawan kondang Sujiwo Tedjo, Putri merasakan sangat menyenangkan.

“Akting sama Mas Jiwo seperti di taman bermain, akting memang begitu sangat mengasyikan, aku memang cinta banget dengan akting, menyaksikan seniman berkarya sungguh bukan main jadi saya kebawa mengikutinya aktingnya,“ urainya.

Menurut Putri, Sujiwo Tedjo tipe orang yang bukannya spot light hanya untuk dirinya saja, tapi membagi dengan seimbang dan main bareng dengan menyenangkan.

“Aku tetap menjadi karakterku dan Mas Jiwo tetap menjadi karakternya, aku harus memberikan sebagian yang Mas Jiwo berikan sama aku juga,“ ucapnya penuh percaya diri.

Ia mengaku tipe pemain yang kalau sudah masuk ke karakter tidak mau keluar masuk ke karaktrer lainnya.

“Saya konsen pada karakter Bu Sri sepanjang 36 hari menjalani syuting film ini,” ujarnya.

Main film horor, Putri mendisplinkan diri untuk sebanyak mungkin mendengar pendapat orang-orang yang ada di sekelilingnya, mulai dari antarpemain, sutradara, maupun kru film.

“Aku harus minta pendapat pada mereka kalau aku tampil seperti ini sudah pas sesuai dengan karakter yang saya mainkan. Apa belum karena aku memang benar-benar bisa berakting dengan sebaik mungkin,” paparnya.

Obsesi Putri ingin mendapat peran yang memorable yang diingat banyak orang.

“Aku berharap orang mengingat peran aku sebagai Bu Sri dalam film ini,” harapnya.

Arti akting bagi Putri, sebagai semboyan dalam hidupnya, bahwa acting for living, dan living for acting.

“Buat aku sepandai-pandainya orang adalah orang yang pandai menempatkan diri dalam peran dalam kehidupan sehari-hari,“ ujarnya.

Putri memang sedang berkampanye mengenai semboyan tersebut, dimana setiap orang harus mampu memerankan kehidupannya sebaik mungkin.

“Menurut aku kalau orang sudah melakukan peran sebaik-baiknya dalam dunia ini maka menjadi pencapaian tertinggi,“ tegasnya.

Harapan Putri, film ini dapat dinikmati banyak orang.

“Orang-orang bisa menyaksikan betapa kami semua meletakkan hati kami untuk mengerjakan film ini dengan tujuan satu, karya film ini bagus,“ tandasnya.

Lihat juga...