3.000 Orang Lebih Terdampar Akibat Dam Runtuh di Laos

SEKONG — Regu penolong dari China dan Thailand menuju tempat terpencil di Laos, tempat lebih 3.000 orang terdampar setelah bendungan runtuh dan mengirim air ke desa di dekatnya, pada Rabu (25/7/2018).

The Vientiane Times, yang mengutip Gubernur Distrik Bounhom Phommasane, melaporkan sekitar 19 orang ditemukan meninggal, sementara hampir 3.000 orang ditolong ke tempat aman, lebih dari jumlah itu menunggu pertolongan, banyak berada di atap rumah mereka, yang terendam air.

Pejabat tinggi pemerintah, yang ditelepon Reuters dari Vientiane, ibu kota Laos, mengatakan puluhan orang dikhawatirkan meninggal setelah bendungan itu, yang satu bangunaannya sedang dibangun sebagai bagian pembangkit listrik tenaga air, runtuh pada Senin.

“Kami akan melanjutkan pertolongan hari ini tetapi sangat sulit. Keadaan sangat sulit. Puluhan orang meninggal. Jumlahnya bisa lebih tinggi,” kata pejabat itu, yang tidak bersedia disebutkan jatidirinya karena tidak memiliki wewenang berbicara ke media.

Laporan PBB mengenai bencana itu menyebutkan jumlah korban tewas mencapai lima orang, 34 orang hilang, 1.494 orang dievakuasi, dan 11.777 orang warga di 357 desa terpapar.

Dalam bencana itu, sebanyak 20 rumah hancur dan lebih dari 223 rumah dan 14 jembatan rusak diterjang banjir.

Pejabat pemerintah mengatakan ratusan orang dikabarkan hilang setelah sedikitnya tujuh desa terendam air di Provinsi Attapeu, di bagian paling selatan Laos.

Media negara menunjukkan foto desa-desa, sebagian anak-anak, yang berada di atap-atap rumah yang terendam air. Yang lain menunjukkan para warga desa berusaha menaiki perahu-perahu kayu di Provinsi Attapeu, di bagian paling selatan Laos.

Karena lokasi kawasan itu terpencil, operasi pertolongan dapat terganggu, kata para pakar.

“Jalan-jalan rusak parah untuk bisa dilalui,” kata Ian Baird, seorang guru besar geografi dari Universitas Wisconsin-Madison dan pakar Laos, kepada Reuters lewat telepon.

“Orang-orang biasanya tidak pergi ke kawasan itu selama musim hujan,” katanya.

Media negara melaporkan tim gabungan beranggota para penolong dari Laos dan China akan mencapai Attapeu pada Rabu siang, dan perahu-perahu terlihat membawa mobil-mobil menuju ke kawasan itu dari timur laut Thailand. Korea Selatan dan Singapura juga menawarkan bantuan dalam usaha pertolongan.

Attapeu adalah provinsi yang bergantung pada pertanian dan berbatasan dengan Vietnam di sebelah timur dan Kamboja di sebelah selatan.

Laos, salah satu negara komunis yang masih ada di dunia dan termasuk miskin di Asia, memiliki ambisi membangun bendungan untuk menjadikan dirinya “batere Asia”.

Pemerintahnya bergantung pada hampir semua pada pengembang dari luar negeri untuk membangun portofolia bendungan-bendungan yang direncanakan berdasarkan konsesi komersial ke tetangga-tetangganya yang lebih maju termasuk Thailand yang sangat butuh energi.

Kelompok-kelompok lingkungan hidup telah berulang kali memperingatkan biaya yang diakibatkan dari pembangunan bendungan itu terhadap manusia dan lingkungan, termasuk kerusakan pada ekosistem sungai-sungai di kawasan itu.

Bendungan yang runtuh tersebut merupakan bagian dari proyek pembangkit listrik Xe-Pian Xe-Namoy, yang melibatkan perusahaan-perusahaan Laos, Thailand dan Korea Selatan. Dikenal dengan nama “Saddle Dam D”, bendungan yang runtuh itu bagian dari jejaring dari dua bendungan utama dan lima dam subsider.

Pada tahun lalu, bendungan pembangkit listrik tenaga air Nam Ao, berkapasitas 15 Megawatt, runtuh di Provinsi Xieng Khuong di bagian utara Laos, menyebabkan banjir bandang, yang merusak harta benda dan mengancam kehidupan. (Ant)

Lihat juga...