‘Wolbachia’ Diharap Jadi Rujukan Atasi DBD

Editro: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Proyek penelitian yang dilakukan Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, diharapkan dapat menjadi rujukan dalam upaya mengurangi  angka kematian akibat penyakit DBD di Indonesia.
Ke depan, penelitian ini juga diproyeksikan tidak hanya dapat mengatasi penyakit DBD, namun juga penyakit lainnya.
“Meski masih dalam tarap penelitian, namun kami yakin hasil penelitian ini nantinya bisa menjadi rujukan dalam upaya pengurangan kasus demam berdarah di Indonesia. Ke depan, kami bahkan berharap Wolbachia dapat juga menangani penyakit lainnya,” ujar peneliti utama EDP, Prof. Adi Utarini, kepada wartawan, Jumat (8/6/2018)) di ruang Fortakgama UGM, dalam rangka memperingati hari deman berdarah Dengue se-Asean.
Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta selama ini telah melakukan proyek penelitian dalam rangka mengurangi angka kematian akibat DBD yang ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti. Yakni dengan menggunakan bahan bakteri alami Wolbachia untuk menghambat perkembangan  virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Telur nyamuk yang sudah mengandung bakteri tersebut disebar di rumah-rumah penduduk di Kota Yogyakarta.
“Kami telah menyebar nyamuk berwolbachia hampir separuh wilayah Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, drg. Yudiria Amelia, menyebutkan kasus DBD di Yogyakarta pada tahun ini mengalami penurunan. Hingga Mei 2018, terdapat 40 kasus demam dengue. Angka tersebut lebih sedikit dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 350 kasus.
“Meski turun, namun pengendalian DBD tetap harus dijalankan,” ujarnya.
Sehubungan dengan adanya penurunan jumlah kasus DBD, pihaknya tengah bekerja sama dengan EDP Yogyakarta untuk melaksanakan studi untuk mengetahui dampak pelepasan nyamuk berwolbachia pada skala luas terhadap penurunan kasus DBD.
Studi ini melibatkan 17 puskesmas dan pustu di Kota Yogyakarata, dan satu Puskesmas di kabupaten Bantul dengan merekrut pasien demam  yang berobat ke puskesmas.
Peneliti EDP lainnya, Riris Andono Ahmad, mengatakan, hingga 7 Juni kemarin, pihaknya sudah merekrut sekitar 1.408 responden, dari target 10.000 responden pada akhir 2019 nanti.
“Dari rekrutmen ini, kita akan memproleh perbandingan kasus DBD di wilayah pelepasan wolbachia,” paparnya.
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aides aigepty. Tak hanya di Indonesia, penyakit ini menjadi keprihatinan di negara-negara beriklim tropis lainnya.
Hal inilah yang memantik negara-negara ASEAN menentukan tanggal 15 Juni sebagai  hari deman berdarah Dengue se-Asean. Atau ASEAN Dengue Day. Tahun ini, peringatan hari DBD se-Asean mengambil tema ‘Masyarakat ASEAN Bersatu Melawan Dengue’, sebagai upaya meningkatkan kesadaran pemerintah dan masyarakat akan pentingnya tindakan pengendalian dan pencegahan DBD.
Lihat juga...