Petani di Malang Terapkan Teknologi Jarwo Super

Editor: Koko Triarko

MALANG – Beberapa tahun belakangan ini telah banyak diperkenalkan berbagai teknologi budi daya padi hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Balitbangtan), untuk mendongkrak produktivitas padi dan pendapatan petani. Salah satunya, melalui terobosan inovasi teknologi Jajar Legowo (Jarwo) Super.
Kemin Hardiyanto adalah salah satu petani di kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, yang turut menerapkan teknologi Jarwo Super pada sistem pertaniannya. Menurutnya, dengan menerapkan teknologi Jarwo Super, hasil panennya bisa meningkat hingga 30 persen.
“Pada musim penghujan, biasanya hasil penen menurun, tapi dengan penerapan Jarwo Super hasil panen justru meningkat hingga 30 persen,” akunya.
Kemin menjelaskan, teknologi jajar legowo (Jarwo) sebenarnya sudah lama dikenal di kalangan petani, yakni cara bertanam padi dengan jarak 2:1. Hanya saja, pada Jarwo Super dilengkapi dengan penggunaan benih varietas unggul yang berlabel.
Tidak hanya itu, dalam teknologi ini juga menggunakan mikroorganisme berupa nutrisi yang diberikan sebelum pengolahan tanah, untuk mempercepat proses pembusukan sisa tanaman.
“Selain itu, sebelum tanam kita juga memberikan Mikro Organisme Lokal (MOL), dan penggunaan pupuk hayati untuk mempercepat pertumbuhan tanaman padi,” jelasnya.
Sedangkan untuk pengendalian serangan hama, Kemin menggunakan sistem refugia, yaitu tanaman selingan yang ditanam di pematang, dengan tujuan untuk mengendalikan hama, seperti hama penggerek batang, wereng dan hama tikus.
“Untuk mengendalikan hama tikus, kita manfaatkan buah gadung KB yang telah diparut dan dicampur sedikit bekatul yang berfungsi untuk menekan perkembangbiakan tikus, karena gadung KB bisa membuat tikus menjadi mandul,” terangnya.
Selain itu, Kemin dan kelompok taninya secara rutin melakukan pengamatan sebagai bentuk pencegahan. Hanya saja, biasanya para petani baru mau melakukan pengendalian kalau sudah terjadi serangan. Padahal, seharusnya justru sebelum terjadi serangan hama ini harus sudah dikendalikan.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati,” tuturnya.
Saya juga meminta kepada para petani untuk membuat analisa usaha tani yang berfungsi untuk mengukur sejauh mana keuntungan yang mereka dapat dengan menerapkan Jarwo Super.
“Kami mendapatkan ilmu Jarwo Super dari para penyuluh pertanian, karena kami selalu mengikuti teknologi,” pungkasnya.
Lihat juga...