Pernikahan Sekar dan Ajie, Peduli Kekayaan Adat Budaya Nusantara
Editor: Satmoko
JAKARTA – Menerapkan adat budaya dalam pernikahan seperti dalam pernikahan Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana (Sekar) dengan Ajie Sulistiyo Dwi Putra Maryulis (Ajie), tampaknya tidak hanya melestarikan adat budaya, tapi juga menghidupkan, bahkan menumbuh-kembangkan adat budaya di tengah masyarakat seiring dengan perkembangan zaman.
Tienuk Rifki, perias pengantin asal Yogyakarta itu sangat mempertahankan pakem, sebagaimana disampaikan Dewi Meitasari, asistennya. Hal itu untuk menjaga orisinalitas adat budaya. Apalagi Tienuk menjadi contoh bagi para perias muda.
“Dalam pernikahan Sekar untuk acara siraman dan midodareni memakai adat Jogjakarta, tapi besok untuk akad nikahnya akan memakai adat Solo,“ kata Dewi Meitasari, asisten Tienuk Rifki, perias pengantin asal Yogyakarta, seusai acara siraman di kediaman Mbak Tutut, Jalan Yusuf Adiwinata, Jakarta, Sabtu (5/5/2018).
Dewi membeberkan, adat Jogjakarta dengan Solo dari bentuk busananya sangat berbeda, seperti blangkon, kalau Jogja ada bendolan sedangkan Solo trepes.

“Kemudian, kain jarik yang dipakai juga beda, kalau Jogja ada latar putihnya, sedangkan kalau Solo orang menyebutnya warna sogan, warna coklat sama sekali tidak ada warna putihnya. Wironnya, lipatannya, juga beda,” bebernya.
Sedangkan dari tata caranya, adat siraman Jogja dengan Solo kurang lebih sama, hanya saja kalau Jogja pakemnya tidak ada jual dawet, tapi kalau Solo ada jual dawet.
“Tapi sekarang ini mau adat Jogja maupun Solo pakai jual dawet, karena jual dawet itu simbol diharapkan tamu yang hadir kemruwet kayak dawet, banyak tamunya,“ ungkapnya
Ada pun urutan acaranya hampir sama, kecuali panggih berbeda sama sekali. “Panggih itu setelah acara akad nikah, jadi yang ada lempar-lemparan sirih,“ paparnya.
Untuk riasannya memakai adat Sunda karena Bapak Indra Rukmana punya darah Sunda. “Kali ini aspek riasannya juga pakai unsur adat Sunda,“ tegasnya.
Besok malam pada saat resepsi pernikahan Sekar dan Ajie sudah tergolong perspektif Nusantara karena perwujudan berbagai adat budaya.
“Bagusnya memang memperlihatkan bahwa pengantinnya peduli kekayaan adat budaya Nusantara,“ tandasnya.