Kemarau, Petani di Lombok Khawatirkan Tanamannya
Editor: Mahadeva WS
MATARAM – Petani di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengkhawatirkan tanamannya. Memasuki musim kemarau, sebagian lahan pertanian akan mengalami kesulitan mendapatkan air.
Setiap kali memasuki kemarau, debit air sungai maupun bendungan mulai menyusut. “Kalau musim kemarau seperti sekarang, air sungai, bendungan maupun embung mulai menyusut. Sementara kebutuhan petani akan air juga cukup tinggi untuk kebutuhan pengairan,” kata Seorang petani warga Lombok Timur Darsiah, Senin (7/5/2018).
Darsiah mengatakan, musim kemarau dengan musim hujan, antusiasme petani untuk bercocok tanam sama tingginya. Meskipun lahan yang dimiliki termasuk lahan tadah hujan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat petani meski usahanya membutuhkan air lebih banyak.
Di setiap kemarau, tanaman yang paling banyak ditanam petani, adalah tembakau dan semangka. Ada pula yang memilih menanam palawija berupa jagung, kedelai maupun kacang hijau “Dengan adanya penyusutan debit air sungai maupun embung dihawatirkan kebutuhan tanaman nantinya tidak akan mencukupi, bisa berdampak terhadap kekeringan dan gagal panen,” tambah Darsiah.
Seorang petani semangka Kurniawan mengatakan, dengan debit air sungai yang kecil petani harus bergiliran untuk mendapatkan air. “Petani sudah saling pengertian saat melakukan proses penyedotan air sungai, supaya bisa mencukupi semuanya,” tandasnya.
Tenggang rasa dibangun untuk mencegah perselisihan antar petani karena saling berebut air. “Mengharapkan air bendungan terkadang susah, kalaupun mau dikasih harus siap bayar kepada subak air 100.000 sampai 150.000, kalau tidak mana mau mengalirkan ke sawah petani,” tandasnya.
Sebagai solusi, sebagian petani memilih membuat embung sendiri. Hanya saja fasilitas tersebut kalau musim kemarau, tetap saja airnya menyusut dan berkurang. Jika hal tersebut terjadi petani beralih dengan membuat sumur bor sendiri