Jasa Potong Kayu Mesin Serkel di Lamsel Masih Dibutuhkan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masih tingginya kebutuhan bahan bangunan berbahan kayu untuk kusen pintu, jendela dan furniture, membuat peranan jasa potong kayu masih sangat diperlukan. Jasa pemotongan kayu menggunakan mesin serkel atau gergaji piringan pun semakin dibutuhkan.

Susilo (40), salah satu pemilik mesin potong kayu jenis serkel atau gergaji piringan menyebut, penggunaan mesin potong digunakan untuk tahap kedua pengolahan kayu. Selama ini penggunaan gergaji mesin dipergunakan untuk merobohkan, memotong batang kayu menjadi kayu gelondongan. Selanjutnya diolah menjadi bahan balken atau kayu siap olah jenis papan atau balok kayu menyesuaikan permintaan pemilik kayu.

Susilo (kiri) pemilik usaha jasa mesin potong kayu keliling bersama pekerja mempersiapkan balok kayu yang akan dibelah [Foto: Henk Widi]
Susilo yang tinggal di Desa Kelaten, Penengahan, Lampung Selatan, menyebut sejak sepuluh tahun silam dirinya memiliki dua mesin potong kayu keliling. Jasa tersebut semula jarang dikenal, karena warga belum begitu mengenal manfaat penggunaan alat tersebut untuk pengolahan kayu. Di beberapa desa, kehadiran serkel keliling atau mesin potong kayu keliling masih kalah dengan gergaji mesin dan gergaji tangan.

Perbandingan tingkat pengikisan kayu setebal rata-rata dua sentimeter menggunakan gergaji mesin membuat pemilik kayu memilih serkel keliling. Piringan mata gergaji yang tipis disebutnya bisa meminimalisir pengurangan kayu, bahkan cukup menguntungkan karena batang utama, dahan hingga ranting pohon masih bisa diolah menjadi bahan bangunan.

Awalnya, Susilo harus meyakinkan keunggulan penggunaan mesin dengan mesin diesel 24 PK, piringan gergaji 60 cm dan memiliki empat roda tersebut. “Pengerjaan yang lebih cepat dengan tingkat keterpakaian kayu lebih tinggi membuat warga yang memanfaatkan kayu sebagai bahan bangunan mulai beralih ke mesin potong kayu keliling,” papar Susilo, Selasa (8/5/2018).

Pemakaian gergaji mesin disebutnya masih tetap digunakan untuk penebangan tahap awal dan pemotongan. Selanjutnya proses pembelahan hingga berbentuk balok balok kayu dilakukan menjadi dua bagian masih menggunakan gergaji mesin.

Pada awal ia memiliki mesin potong, belah kayu keliling jasa atau tarif pemotongan dihitung berdasarkan sistem kubikasi dari harga Rp200.000 hingga Rp250.000 per kubik, menyesuaikan jenis dan tingkat kekerasan kayu.

Seiring dengan tingginya permintaan, Susilo menyebut jasa pemotongan dan pembelahan kayu sudah mencapai Rp400.000 per kubik hingga Rp500.000 per kubik, menyesuaikan jenis kayu dan lokasi.

Jenis kayu keras di antaranya Jati, Bayur, Sono Keling, Akasia, Nangka, dipatok dengan tarif Rp500.000 per kubik. Sementara jenis kayu Sengon, Jati Ambon, dan jenis kayu empuk dipatok Rp400.000 per kubik.

“Pembedaan tarif tersebut memperhitungkan tingkat penggunaan piringan gergaji, semakin keras kayu semakin cepat aus dan mempengaruhi penggunaan bahan bakar,” beber Susilo.

Kenaikan tarif pengolahan kayu dari jasa mesin potong keliling disebutnya juga dipengaruhi oleh proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Proses land clearing (pembersihan lahan) dengan tahap pertama penebangan pohon disebutnya dari Stationing (STA) 00 hingga STA 20 dirinya mendapatkan pesanan dari puluhan pemilik kebun. Keterbatasan pemilik mesin potong kayu keliling bahkan membuat order semakin meningkat.

Sehari pengerjaan, ia bisa menghasilkan sekitar 10 hingga 20 kubik kayu menyesuaikan jenis kayu yang dipotong. Sebagian warga pemilik kayu memilih mengolah kayu menjadi bahan kaso, balken, papan dengan tingkat kekerasan kayu berbeda.

Sehari saat masa pembersihan lahan, dirinya kerap memperoleh upah hingga Rp8 juta. Hasilnya dibagi untuk upah sebanyak tiga karyawan dan pembelian bahan bakar solar dan oli, pembelian piringan gergaji baru.

“Order jasa mesin potong keliling masih tinggi saat proses pengerjaan tol Sumatera, tapi saat ini mulai sepi. Hanya oleh warga yang akan membuat bangunan baru,” beber Susilo.

Berkat usaha tersebut, Susilo bisa menambah dua mesin potong keliling menjadi tiga unit dan menambah mesin gergaji tangan. Selain itu, juga bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang kuliah serta bisa membangun rumah. Keberadaan jasa mesin potong kayu keliling disebutnya sekaligus menjadi lapangan kerja bagi sejumlah pemuda.

Hasan (24), salah satu pemuda yang bekerja bersama Susilo menyebut sulitnya mencari lapangan pekerjaan membuat dirinya bisa memperoleh penghasilan. Upah tenaga kerja yang dihitung berdasarkan kubikasi membuat ia bisa memperoleh upah rata-rata sehari Rp100.000, sesuai dengan presentase hasil pengolahan kayu.

Ia menyebut, dengan pekerjaan tersebut bisa dipergunakan untuk membayar setoran kendaraan roda dua miliknya. “Saya kebetulan memiliki keahlian dalam perbaikan mesin, sehingga sekaligus bisa memperbaiki mesin potong kayu,“ papar Hasan.

Jasa mesin potong kayu keliling, selain dimanfaatkan warga di kecamatan Penengahan juga disewa hingga luar kecamatan. Beberapa lokasi kayu yang akan dipotong ikut mempengaruhi tarif, sebab kerap lokasi berada di tempat yang susah diakses kendaraan roda empat.

Lokasi berbukit dan sulit dilintasi bahkan membuat tarif pemakaian mesin potong bisa lebih tinggi dinegosiasikan dengan pemilik kayu. Meski demikian, alat tersebut menjadi pilihan dengan kerapian bahan kayu yang dihasilkan dibanding gergaji mesin tangan biasa.

Lihat juga...