Distan Sikka: 50 Persen Sampel Otak Anjing Positif Rabies

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian (Distan) kabupaten Sikka mengirim 20 sampel otak anjing yang menggigit manusia untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium di Denpasar, Bali.

“Sebanyak 20 sampel dikirim ke Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali untuk memastikan apakah positif rabies atau tidak,” ujar kepala bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko, MSc, Jumat (4/5/2018).

Dikatakan, dari jumlah tersebut, sebanyak 10 otak anjing yang diperiksa hasilnya positif Rabies.

“Sampel tersebut diambil sejak bulan Januari sampai awal April 2018. 10 Sampel yang positif ini tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Sikka sehingga masyarakat harus mau anjingnya divaksin,” tuturnya.

Sementara itu, Sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr. Asep Purnama merasa khawatir dengan mulai merebak kembali kasus Rabies terutama di kabupaten Sikka yang mengalami peningkatan sejak 2017.

“Selama kurun waktu 2017 saja terdapat 11 kasus gigitan anjing Rabies yang tersebar di lima kecamatan yakni Lela, Alok, Alok Barat, Nita dan Kangae. Dengan demikian Rabies sudah menyebar di 17 desa dan 7 kecamatan dari 21 kecamatan di kabupaten Sikka,” sebutnya.

Selama 018 saja, beber dokter Asep, sudah ada sembilan orang yang digigit di lima kecamatan yakni Lela, Kewapante, Hewokloang, Nita dan Kangae.

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaannya,” sebutnya.

kabid kesehatan hewan
Drh. Maria Margaretha Siko,MSc, kepala bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Semua warga kabupaten Sikka khususnya dan masyarakat Flores dan Lembata umumnya harus berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan dengan mengikat anjing peliharaannya dan melakukan vaksin.

“Jadilah pemilik yang bertanggung jawab. Anjing sehat, keluarga selamat. Anjing merupakan penular penyakit Rabies terbesar selain kucing dan monyet,” tuturnya.

Semua bupati di daratan Flores dan Lembata pinta Asep, harus berkomitmen memberantas penyakit Rabies ini sebab penyakit ini saat ada pertama tahun 1992 di Flores telah menyebar dengan cepat ke berbagai daerah bahkan di Bali pun terjadi kasusnya.

“Makanya vaksin anjing selalu ada, dan warga mesti melakukan upaya-upaya konkret untuk mengurung anjing peliharaannya agar tidak terlular dan berpotensi menggigit manusia. Kalau kesadaran ini ada, maka tujuan kita bersama agar Flores dan Lembata bebas rabies dapat tercapai,” tegasnya.

Lihat juga...