Desa Mandiri Lestari Tingkatkan Taraf Hidup Warga Kebonagung
Editor: Satmoko
YOGYAKARTA – Meski belum diresmikan, adanya program Desa Mandiri Lestari di Desa Kebonagung Imogiri Bantul ternyata telah dirasakan memberikan banyak manfaat bagi warga desa.
Hal itu diungkapkan salah seorang pengurus kampung yang merupakan Ketua RT 04 Dusun Tlogo Kebonagung Imogiri Bantul, Joko Iswantoro. Joko menyebut adanya program Desa Mandiri Lestari di desanya, telah berkontribusi ikut mensejahterakan warganya.
“Meski belum diresmikan, namun banyak sekali manfaat yang sudah dirasakan. Selain ikut memajukan desa, program dari Yayasan Damandiri ini juga terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat,” katanya saat ditemui Cendana News, belum lama ini.

Melalui program Desa Mandiri Lestari, Yayasan Damandiri memberikan sejumlah bantuan seperti bedah rumah, pembuatan Warung Damandiri hingga pemberian modal usaha berupa Gerobak Rakyat.
Di wilayah RT 04 Dusun Tlogo saja, saat ini sudah ada 2 rumah tidak layak huni yang diberikan bantuan renovasi melalui program bedah rumah. Tak sekedar diberikan bantuan renovasi, masing-masing keluarga penerima bantuan juga dibuatkan Warung Damandiri untuk memulai usaha.
“Inilah bedanya bantuan dari Yayasan Damandiri. Kalau dari Damandiri tidak ada ikatan. Tetapi murni bantuan. Kalau dari pemerintah jelas beda. Selain itu bantuan juga tidak sekedar diberikan lalu selesai, tapi ada upaya pemberdayaan dengan diberikan modal untuk usaha,” katanya.
Selain meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup warga, adanya program bantuan bedah rumah tersebut menurut Joko juga berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di wilayahnya. Adanya bantuan Yayasan Damandiri itu setidaknya diharapkan dapat mengangkat 2 keluarga miskin di wilayah RT 04.
“Kita harapkan program ini ada kelanjutannya. Karena rencananya Yayasan Damandiri akan memberikan bantuan bedah rumah total sebanyak 30 unit se-Desa Kebonagung, secara bertahap,” ungkapnya.
Di wilayah RT 04 Dusun Tlogo Kebonagung sendiri tercatat ada sebanyak 200 penduduk dengan 50 KK. Dari jumlah itu sebanyak 10 KK tercatat masih masuk dalam kategori prasejahtera atau kurang mampu. Hal itu diukur dari sejumlah parameter mulai dari kondisi rumah, jumlah keluarga, penghasilan hingga kondisi keuangan dan sebagainya.
“Mayoritas warga di sini adalah petani, tapi mereka tidak punya lahan sendiri. Sehingga mereka hanya sebagai petani penggarap atau buruh. Selebihnya adalah buruh bangunan, pedagang dan sebagainya. Dengan kondisi seperti itu, memang kita masih membutuhkan bantuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” pungkasnya.