Saladin: Keaktoran dalam Film Indonesia tak Kondusif

Editor: Koko Triarko

Aktor kawakan, Soultan Saladin –Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Aktor kawakan Soultan Saladin, mengatakan, saat ini era industri membuat suasana keaktoran dalam dunia film Indonesia tidak kondusif. Berbeda dengan di negara lain, seperti  Amerika dan lainnya.

Hal itu pula yang membuat Saladin kini tak begitu berminat berakting. “Sebetulnya kalau suasana keaktoran itu ada, enak. Sekarang sudah tidak ada. Beda dengan perfilman Hollywood di Amerika, perfilman Bollywood di India, atau perfilman Nollywood di Negeria. Kalau di sini, aktor tua tidak dihargai. Kalau ingin dapat peran harus ngemis-ngemis, saya pantang meminta-minta peran,“ ungkap jebolan pendidikan Kino Workshop jurusan akting (1973), dan Loka Karya Seni Peran tahun 1976, ini.

Namun, Saladin tetap mensyukuri dunia seni peran yang telah membesarkan namanya, dan mengaku sangat merindukan suasana keaktoran dalam film Indonesia. “Semoga ke depan suasana keaktoran kembali ada,“ kata Saladin, yang ditemui dalam acara peluncuran sebuah program Ramadhan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saladin awal terjun dalam dunia seni peran dengan bermain teater, dengan menjadi anggota “Teater Kecil” Arifin C. Noer (alm) dan “Teater Populer” Teguh Karya (alm). Terjun ke dunia film sejak 1971 sebagai pemain pembantu dalam film Pengantin Remaja, kemudian dilanjutkan dengan film-film lainnya seperti Lewat Tengah Malam (1971), Wajah Seorang Laki-laki (1971), dan Mama (1972).

Saladin juga terkenal dengan peran-peran antagonisnya dalam film-film Rhoma Irama, seperti Melodi Cinta (1980), Perjuangan Dan Doa (1980), Badai di Awal Bahagia (1981), hinggga Satria Bergitar (1983). Juga film dakwah Rhoma Irama terbaru, ‘Cinta dan Doa’ yang akan segera tayang.

Ketika ditanya mengapa selalu berperan antagonis, Soultan Saladin mengaku tidak tahu. “Padahal, wajah saya wajah baik-baik”, katanya.

Lelaki kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 21 Oktober 1949 ini mengatakan, ada sebuah film yang dirinya mendapat peran antagonis yang sangat berkesan, yakni film Al Kautsar (1977).

“Pokoknya, perannya antagonis terus,“ tegas aktor pemilik nama asli Saladin Syah, yang berdarah Minangkabau dan Melayu, ini.

Namun, Saladin mengaku pernah juga mendapat peran protagonis, yakni dalam film Remang-Remang Jakarta (1981). “Sayangnya, film tersebut kurang dikenal masyarakat,“ ungkapnya.

Saladin mengungkapkan, ada sebuah peran yang ingin sekali dimainkannya, yang berkisah tentang detik-detik terakhir Bung Karno. “Kisahnya bagus sekali, begitu menyayat hati, kalau itu dibuat, cocok sekali,“ pungkasnya.

Lihat juga...