Petani Lamsel Gunakan Alsintan Percepat Proses Panen

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Alat dan mesin pertanian (alsintan) modern, khususnya untuk padi sawah, mulai banyak digunakan di lahan pertanian di wilayah Lampung Selatan.

Petani di Desa Ruang tengah, Penengahan, Anto (40), mengatakan, sejumlah petani mulai mempergunakan mesin perontok padi jenis dos (power threser) dan combine harvester yang memotong bulir tanaman sekaligus merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan di lahan sawah.

Menurut Anto, penggunaan alat dan mesin pertanian modern sudah mulai jamak dilakukan untuk mempercepat pengolahan lahan, penanaman hingga pemanenan padi.

Mesin traktor, penanam padi (rice transplanter) hingga alat pemanen padi, sebagian merupakan milik anggota kelompok tani (Poktan) dan bantuan dari Kementerian Pertanian.

“Saya sendiri memanfaatkan mesin pengolah tanah dan pemanen dengan sistem sewa, karena lebih praktis. Hanya membayar biaya sesuai dengan kesepakatan antara pemilik lahan dan pemilik alat tersebut,” terang Anto, Senin (30/4/2018).

Anto yang tengah panen, mengaku sengaja mempergunakan mesin dos, karena sudah mengalami keterlambatan panen. Keterlambatan tersebut karena faktor cuaca hujan yang kerap melanda wilayah tersebut. Karena itu, Anto mendatangkan mesin dos untuk mempercepat proses panen.

Matmunah, satu dari puluhan buruh panen padi dengan sistem upah harian [Foto: Henk Widi]
Ia mengatakan, mesin dos menjadi pilihan untuk melakukan pemanenan dengan sistem padat karya. Pemanenan sistem dos dilakukan dengan kombinasi tenaga manusia dan mesin.

Pada tahap pertama, pemotongan batang padi masih dilakukan secara manual dilanjutkan memakai mesin dos. Proses tersebut dilakukan dengan sistem bagi hasil padi yang disepakati, jika memperoleh 9 karung padi, maka 8 karung untuk pemilik lahan dan 1 karung untuk pemilik mesin.

Khusus untuk para pekerja dan kebutuhan bahan bakar mesin menjadi tanggungan pengelola mesin dos.

Anto menyebut, pada lahan seluas satu hektare, ia bisa memperoleh hasil sekitar 6 ton padi varietas Ciherang. Sebelumnya, dengan cara pemanenan tradisional, memakan waktu tiga hari, dimulai dari memotong padi hingga merontokkan padi. Sejak ada mesin dos perontok padi, ia hanya membutuhkan waktu maksimal satu hari, padi sudah bisa dibawa pulang ke rumah atau dijual.

Sementara itu, harga gabah kering panen pada masa puncak panen padi musim ini diakuinya terus mengalami penurunan. Harga semula Rp4.500, terus merosot hingga Rp4.200 per kilogram atau Rp420.000 per kuintal.

Anjloknya harga gabah kering di tingkat petani, membuat petani memilih menyimpan gabah untuk digiling dan dijual dalam bentuk beras. Anto juga sengaja menyimpan gabah hasil panen untuk kebutuhan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mendatang.

Penggunaan mesin dos di lahan pertanian padi juga memberi sumber penghasilan bagi pemilik mesin dos dan buruh. Bagi pemilik mesin dos, hasil berupa bagian padi dengan petani pemilik padi dalam sehari bisa mendapatkan 4 hingga 5 kuintal gabah kering.

Kecepatan proses pemanenan disebut Matmunah (40) tergantung jumlah pekerja dalam proses pemanenan. Semakin banyak pekerja, maka proses pemanenan padi cepat dilakukan.

Matmunah menyebut, dalam sehari bisa membantu pemanenan di lima lahan milik petani. Sistem pemanenan diawali dengan pemotongan batang padi, pengumpulan di dekat mesin dos sekaligus perontokan padi. Dalam sekali proses pemanenan menggunakan mesin dos, ia dibantu 30 orang buruh didominasi oleh perempuan.

“Hanya ada beberapa laki-laki dilibatkan untuk mengoperasikan mesin dos selama kaum perempuan bertugas memotong dan mengumpulkan batang padi,” beber Matmunah.

Bagi pemilik mesin dos, sistem bagi hasil panen diperoleh dengan ketentuan pemilik lahan mendapatkan 9 karung gabah maka pemilik mesin dos mendapat bagian 1 karung gabah. Ketentuan pembagian hasil tersebut diakuinya bisa berbeda tergantung daerah dan jarak jangkauan lahan sawah dengan jalan. Bagi para pekerja seperti Matmunah, mendapatkan upah dengan sistem harian sebesar Rp75.000 hingga Rp100.000 per hari.

Penggunaan mesin dalam pemanenan juga mulai diterapkan di lahan pertanian wilayah tersebut menggunakan combine harvester. Alat pemanen padi yang dioperasikan dengan memotong padi, merontokkan dan membersihkan padi tersebut dimanfaatkan petani dengan sistem sewa.

Herman (40) pemilik lahan padi sawah menyebut, mesin combine harvester diaplikasikan untuk mempercepat proses pemanenan.

Menurutnya biaya sewa menyesuaikan hamparan lahan, pada hamparan yang luas per hektare biaya combine harvester mencapai Rp2 juta. Sistem bagi hasil dilakukan pada lahan yang tidak terlalu luas, seperti yang dimiliki Herman.

Herman menyebut, penggunaan alsintan modern telah menggantikan tenaga manusia dan sistem tradisional. Meski demikian, sisi positifnya proses pengolahan lahan, penanaman hingga pemanen padi bisa lebih cepat dilakukan. Selain efisien dari segi waktu, penggunaan biaya juga bisa ditekan.

Lihat juga...