Pertumbuhan “Revenue” PLN Balikpapan Melambat

Editor: Irvan Syafari

Manajer Area Balikpapan PLN, Ahmad Syauki-Foto: Ferry Cahyanti.

BALIKPAPAN — Sejak sistem Mahakan mengalami surplus pada 2017 kemarin, kran pembukaan pelanggan baru industri dan rumah tangga dilakukan secara besar-besaran untuk mendongkrak pertumbuhan PLN setiap tahunnya. Bahkan untuk pelanggan industri berupaya untuk menjemput bola untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Pada triwulan pertama 2018, pertumbuhan keseluruhan untuk area Balikpapan mencapai 2 persen. Jumlah itu jauh lebih kecil, apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. pertumbuhan industri untuk area Balikpapan paling tinggi, yakni 16 persen. Sementara untuk bisnis pertumbuhannya mencapai 6 persen.

“Pemakaian rumah tangga stagnan, kenapa ini pengaruh perkembangan teknologi. Penggunaan alat elektronik makin hemat, seperti lampu menggunakan LED, televisi dulu cembung sekarang layar datar. Sekarang televisi juga watt-nya lebih kecil sehingga di sini pelanggan rumah tangga terjadi penghematan,” ucap Manajer Area Balikpapan PLN, Ahmad Syauki, Senin (9/4/2018).

Dijelaskannya, pertumbuhan revenue melambat meski tetap mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. Tahun 2018, ditargetkan akan tumbuh 5 persen dan kini terealisasi dua persen.

“PLN ditergetkan tumbuh 5 persen, namun kondisi saat ini baru 2 persen. Sekarang industri dan bisnis di Kota Balikpapan mulai membaik dan naik seiring pertumbuhan harga batu bara. Kita optimis akan terus tumbuh,” harap Syauki.

Menurutnya, kontribusi rumah tangga saat ini adalah yang terbesar sebagai pemakai konsumsi listrik, padahal rumah tangga makin hemat. Ini cukup menghambat pertumbuhan penjualan PLN, di mana porsi pelanggan rumah tangga hampir mencapai 90 persen dari total hanya saja pemakaian kecil.

“Penggunaan industri hanya 10 persen, namun konsumsinya 30 persen industri dan bisnis, sedangkan yang terbesar adalah pelanggan rumah tangga, tapi jauh lebih kecil,” bilang Syauki.

Dia menambahkan PLN saat ini mengingikan pelanggan yang menggunakan listrik menyalur menjadi pelanggan PLN. Termasuk pabrik industri yang menggunakan diesel, atau menggunakan pembangkit sendiri dan disarankan bergabung ke PLN karena biaya produksi lebih murah.

“Sekarang terbalik, industri dirangsang pemerintah untuk tumbuh dengan pemberian subsidi. Bahkan dibanding rumah tangga non subsidi industri lebih murah,” imbuhnya.

Lihat juga...