MAUMERE – Pelaku pariwisata beranggapan, mempromosikan pariwisata di Pulau Flores dan Lembata dengan menggelar iven balap sepeda internasional, Tour de Flores, hanya membuang-buang uang, karena tidak membawa dampak besar bagi pariwisata di provinsi setempat.
“Saya satu orang yang tidak setuju membuang uang untuk promosi pariwisata Flores lewat iven balap sepeda internasional Tour de Flores. Berapa banyak pembalap sepeda yang mempromosikan pariwisata kita?,” tegas Paul Edmundus Tallo, Kamis (12/4/2018) malam.

Pegiat pariwisata ini, menyesalkan penggunaan dana APBD kabupaten-kabupaten di Flores untuk menggelar iven balap sepeda. Baginya, para pembalap hanya datang untuk berolahraga dan mereka bisa bersepeda di mana saja.
“Orang bersepeda boleh, tetapi kenapa biayanya ditanggung pemerintah?. Ini yang membuat saya tidak setuju. Mereka bersepeda sangat bagus, tapi jangan pemerintah dan rakyat yang membiayai kegiatan mereka,” tandasnya.
Iven balap sepeda Tour de Flores, kata Paul, hanya diikuti paling banyak seratus lebih pembalap saja. Dirinya membawa turis pada 2017 saja lebih dari seribu orang, dan tidak meminta bantuan uang dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Flores.
“Wisatawan yang saya bawa bila mereka senang berkunjung ke Flores, maka mereka akan memberitahukan kepada semua teman dan saudara mereka untuk datang ke Flores. Para pembalap tidak mengunjungi destinasi wisata, sehingga mereka tentu tidak mempromosikan tempat wisata”, kata Paul.
Ia menambahkan, pembalap sepeda hanya lewat jalan raya saja, tidak mengunjungi obyek-obyek wisata. Bagi pembalap, tersebut yang terpenting jalan rayanya bagus dan mereka bisa meraih juara.
Menurut Paul, seharusnya dana yang dipergunakan untuk membiayai iven balap sepeda tersebut dipergunakan untuk memperbaiki obyek-obyek wisata dengan cara melakukan penataan obyek wisata, membangun akses jalan ke daerah wisata tersebut.
Dana tersebut, kata Paul, juga bisa dipergunakan untuk mendidik masyarakat yang terlibat dalam rantai pariwisata untuk bisa menjadi tuan rumah yang baik, dengan memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.
“Dana tersebut lebih berguna kalau dipergunakan untuk membiayai pelatihan untuk para pemandu wisata, supir angkutan serta pemilik hotel untuk bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.
“Bisa juga dipergunakan untuk membantu masyarakat mengembangkan homestay, agar masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat langsung dari kunjungan wisatawan ke daerah mereka,” sebutnya.
Paul juga mengatakan, dana tersebut juga bisa dipergunakan untuk mempromosikan destinasi wisata lewat iklan di media, atau untuk membuat sebuah lomba atau iven yang langsung bersentuhan dengan mempromosikan sebuah destinasi wisata.
“Apa yang dilakukan kabupaten Sikka dengan membuat lomba foto bawah laut dampaknya lebih nyata dan lebih mengena hingga berujung ditetapkannya Teluk Maumere sebagai tempat menyelam favorit di Indonesia”, kata Paul.
Sementara itu, Plt. Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, saat melantik pengurus Unsur Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Sikka, mengatakan, kegiatan-kegiatan promosi pariwisata seperti Tour de Flores menjadi program rutin tahunan.
“Memang ada masukan dan kritikan bagi pemerintah kabupaten di pulau Flores terkait manfaat iven balap sepeda internasional Tour de Flores, tetapi iven ini justru bersentuhan dengan perputaran ekonomi yang luar biasa,” sebutnya.
Menurut Nong Susar, Pemda Sikka setuju dengan kegiatan balap sepeda ini, tapi bila menggunakan uang dari APBD Sikka, maka perlu dikaji kembali. Banyak masyarakat yang mempersoalkan penggunaan dana APBD Sikka untuk balap sepeda ini, hingga menelan dana lebih dari satu miliar rupiah.
“Tahun 2016, kabupaten Sikka juga menggelar iven lomba foto bawah laut dengan peserta dari 30 negara yang memotret alam bawah laut Teluk Maumere. Ternyata alam bawah lautnya lebih indah, meski sempat rusak akibat gempa dan tsunami pada 1992,” pungkasnya.