Meski Ada Informasi Gempa, Wisatawan Tetap Nikmati Liburan
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Informasi gempa dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui short message service (SMS) ke telepon seluler masyarakat tidak berpengaruh pada sektor wisata bahari.
Berdasarkan informasi kegempaan dari BMKG dengan magnitude 5.1 SR, kedalaman 10 kilometer berlokasi di 6.17 LS-105.34 BT dengan lokasi 71 km baratdaya Lampung Selatan dan tidak berpotensi tsunami. Sejumlah lokasi wisata bahari bahkan masih dipadati oleh pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai.
Iskandar, salah satu warga pesisir desa Maja kecamatan Kalianda Lampung Selatan menyebut menerima SMS info gempa. Namun ia menyebut kawasan wisata di pesisir Kalianda masih tetap banyak dikunjungi wisatawan karena berdasarkan informasi gempa bumi di laut tersebut tidak berpotensi tsunami.

“Wisatawan lokal kerap datang ke pantai saat pagi dan sore hari untuk menikmati senja dan informasi gempa di barat daya Lampung Selatan tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan. Warga sekitar pantai juga tetap beraktivitas biasa melaut,” papar Iskandar, salah satu warga di desa Maja kecamatan Kalianda saat dihubungi Cendana News, Minggu (15/4/2018).
Iskandar menyebut, penurunan jumlah kunjungan wisatawan justru terjadi saat ada badai Dahlia. Badai yang merusak sebagian wilayah pesisir di Lampung Selatan tersebut membuat tempat wisata bahari berhenti beroperasi.
Selain kerusakan warung dan tempat wisata, badai juga membuat sebagian sektor usaha wisata sementara beroperasi terutama di sepanjang pesisir Rajabasa dan Kalianda.

Kondisi pantai yang surut menjelang sore bahkan dimanfaatkan olehnya bersama keluarga untuk mencari kerang dan bermain pasir. Beberapa anggota keluarganya bahkan memanfaatkan mandi di pantai yang sedang dangkal tersebut untuk mengisi waktu liburan.
“Kebetulan libur selama dua hari dan pantai tetap menjadi lokasi favorit untuk menghabiskan akhir pekan,” papar Christeva.
Selain pesisir Kalianda yang menghadap ke barat daya Lampung Selatan, aktivitas lokasi wisata bahari di pantai Minangrua juga tetap berjalan dengan normal. Pantai yang menyajikan pasir putih dengan teluk yang jernih tersebut bahkan menjadi destinasi pilihan saat akhir pekan.
Miang, salah satu pemilik penginapan di pantai Minangrua menyebut tidak ada pengaruh signifikan akibat informasi gempa di laut.

Ia juga menyebut selalu memantau informasi kondisi cuaca terutama di wilayah perairan karena sebagian warga juga berprofesi sebagai nelayan bagan apung.
“Kami warga juga was-was jika ada gempa di laut apalagi jika berpotensi tsunami karena sebagian warga memiliki bagan apung yang rentan rusak jika ada gelombang tinggi,” papar Miang.
Miang juga menyebut, sejarah Tsunami di kawasan tersebut terlihat pada peristiwa letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam. Letusan dan dampak tsunami tersebut diakuinya masih terlihat di pantai batu menyan dengan batuan hitam endapan lava dan batu apung sisa gunung api. Lokasi tersebut bahkan menjadi spot wisata yang menarik bagi sejumlah wisatawan.

Meski demikian pada musim tangkapan bagus jenis cumi dan teri nelayan bagan congkel tetap beroperasi. Ia juga memastikan para nelayan saat ini sudah menggunakan sistem navigasi berlayar yang bagus dan bahkan selalu melihat informasi kondisi cuaca dari BMKG.