Lingkungan Pulih, Aktivitas Pendakian Rinjani Dibuka Kembali
Editor: Irvan Syafari
MATARAM — Suara Dwipangestu terdengar senang, ketika saya menghubunginya via telepon seluler. Juru Bicara Balai Raman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat itu mengabarkan, pendakian ditutup selama beberapa bulan akhirnya dibuka kembali.
Penutupan dilakukan dengan dua alasan, yaitu cuaca ekstrem selama musim hujan, namun yang paling sebetulnya pemulihan lingkungan.
Memulihkan kawasan nasional ini memang repot. Setiap tahun selalu ada sampah sisa aktivitas wisatawan yang melakukan pendakian, terutama sampah plastik hingga kaleng bekas minuman.
Dwipangestu menuturkan, pihaknya juga mengambil pohon yang tumbang akibat cuaca buruk. Proses pemulihan ini melibatkan berbagai pihak seperti Dinas Pariwisata, porter, pelaku pariwisata hingga kalangan aktivis pecinta alam.
“Aktivitas pendakian sudah mulai bisa dilakukan, karena di samping cuaca sudah normal, aktivitas pemulihan kawasan taman nasional juga telah rampung dilakukan” kata Juru bicara Bali TNGR, Dwipangestu dihubungi via telepon seluler, Rabu (4/4/2018)
Ia mengatakan, pasca aktivitas pendakian dibuka, sejak 1 April kemarin, wisatawan terutama wisatawan asing sudah mulai ramai, terutama hari ketiga dibuka
Dikatakan, meski hujan masih berlangsung, tapi kondisi cuaca di sekitar kawasan taman sudah aman untuk aktivitas pendakian, meski demikian ia meminta, kehati-hatian harus tetap dilakukan selama proses pendakian.
“Untuk tarif masuk bagi pendaki, masih tetap menggunakan tarif lama. Khusus wisatawan mancanegara masih 150.000 untuk dua hari dan akan mengalami kenaikan setelah dilakukan sosialisasi,” katanya.
Suryanom, 50 tahun adalah salah seorang porter yang terlibat dalam membersihkan sampah di Gunung Rinjani. Pria yang karib dipanggil Pak End ini sudah puluhan tahun jadi porter.
Kata dia, sebetulnya ketika dia membawa beban pendaki, dia juga membawa sampah milik pendaki yang menyewa tenaganya, bahkan sampah orang lain semampunya.
“Memang berat, beban yang harus dibawa di luar sampah 30 hingga 35 kilogram, ditambah sampah bisa sampai 40 kilogram,” ujar dia ketika dihubungi Cendana News, Rabu (4/4).
Dia melakukan hal itu karena kesadaran tinggi, Rinjani merupakan destinasi yang diminati wisatawan asing. Nama Lombok juga dipertaruhkan kalau sampai ada sampah.
“Kebanyakan yang suka membuang sampah sembarangan itu wisatawan lokal. Biasanya mereka naik tidak memakai jasa porter,” ucap dia.
Balai TNGR menutup jalur pendakian Gunung Rinjani, di Pulau Lombok, NTB mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2018 karena cuaca ekstrem yang membahayakan keselamatan jiwa wisatawan.
“Penutupan jalur pendakian mempertimbangkan kondisi cuaca di atas gunung dan untuk kepentingan pemulihan kawasan taman nasional,” kata Kepala Balai TNGR, Agus Budi Santosa
Pada2018 ini TNGR menargetkan, tingkat kunjungan wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara bisa lebih besar dari kunjungan sebelumnya. Berdasarkan data Balai TNGR Pulau Lombok, NTB, jumlah kunjungan wisatawan ke Rinjani selama tahun 2018 mencapai 79.163 orang.
Di antara mereka terdapat 38.315 wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan tingkat kunjungan tahun 2016 yang mencapai 93.018 orang