Kepedulian Warga Terhadap Sampah di Penengahan Masih Rendah

Editor: Irvan Syafari

LAMPUNG — Aroma bau busuk menyengat tercium di tepi jalan Desa Pasuruan, tepatnya di belakang area SMPN 1 Penengahan Lampung Selatan dan dekat dengan kantor pemerintah Kecamatan Penengahan.

Doni, salah satu warga setempat mengatakan, area kebun kosong milik warga tersebut pernah diberi tanda larangan untuk membuang sampah. Namun akibat kesadaran masyarakat yang kurang, sampah sengaja dibuang pada malam hari.

Ia menuturkan, selain menimbulkan aroma tidak sedap, lokasi pembuangan sampah yang berada di tepi jalan merusak pemandangan. Sampah-sampah pernah dibakar hingga habis, namun beberapa saat kemudian lokasi itu kembali dipenuhi sampah. Saat musim hujan sampah terbawa aliran air dan masuk ke lahan persawahan di Desa Klaten dan Pasuruan.

“Pembersihan kerap dilakukan meski pembuang sampah kerap pada malam hari agar tidak diketahui orang dan belum adanya sanksi tegas membuat kegiatan pembuangan sampah liar terus berlangsung,” ujar Doni, Rabu (11/4/2018)

Selain kebun kosong yang dijadikan lokasi pembuangan sampah, kolong jembatan di Sungai Way Tuba Mati Penengahan masih kerap menjadi tempat favorit.

Hal ini diungkapkan Mahmud, salah satu pekerja proyek pembuatan talud dengan bronjong. Dia memaparkan, saat bekerja ia masih mendapati warga membuang sampah di sungai. Aksi tersebut diakuinya kerap dilakukan saat pagi dan sore hari meski di dekat jembatan tengah ada pengerjaan normalisasi sungai.

Papan himbauan larangan membuang sampah di sungai dan jembatan kerap tidak dihiraukan masyarakat. Dasar jembatan dengan talud semen longsor akibat tersumbatnya dasar jembatan oleh sampah yang menumpuk.

Menurut Mahmud para pekerja pernah membersihkan sekitar dua ton material sampah sebelum pengerjaan talud dan bronjong di sisi Desa Banjarmasin dan Desa Pasuruan.

“Jika aksi buang sampah sembarangan masih tetap dilakukan warga dikuatirkan sungai kotor dan longsor oleh sampah yang menggunung,” jelas Mahmud.

Pasca normalisasi sungai diawali dengan pembersihan sampah. Dia berharap warga tidak membuang sampah di sungai. Sebab normalisasi sungai tersebut dilakukan menghindari banjir dan longsor badan Sungai Way Tuba Mati.

Peristiwa banjir bandang di Kalianda dengan sampah sebagai salah satu penyebab utama disebutnya menjadi pelajaran agar sampah tidak di buang ke sungai.

Program pembersihan sampah di dekat sungai tersebut pernah dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kabupaten Lampung Selatan. Setiap pekan truk sampah melakukan pembersihan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera. Meski demikian kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan sehingga sampah di jembatan dan tepi sungai kembali menumpuk.

Langkah menanamkan kesadaran membuang sampah pada tempatnya juga dilakukan oleh SDN 1 Pasuruan. Sukri,selaku guru Pendidikan Jasmani,kesehatan dan rekreasi menyebut penyediaan kotak sampah dilakukan di setiap kelas. Selain itu lokasi lubang sampah di belakang sekolah telah disediakan untuk pembuangan akhir.

“Sebagian sampah dipisahkan antara sampah yang bisa diurai dimanfaatkan sebagai kompos dan tidak bisa diurai bisa digunakan sebagai bahan daur ulang,” bebernya.

Selain mendisiplinkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, Sukri menyebut kegiatan piket harian rutin dilakukan. Lingkungan yang tidak diwarnai sampah bahkan ditandai dengan tidak adanya daun kering berserakan di halaman sekolah.

Gerakan pungut sampah sesuai aktivitas olahraga dalam gerakan Jumat bersih juga terus digiatkan. Selain membersihkan sampah penanaman pohon yang dipupuk dari hasil kompos sampah ikut membantu kesejukan di jalan desa wilayah tersebut.

Lihat juga...