Kacang Bawang, Usaha Sampingan yang Menjanjikan
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Usaha layanan jahit selama beberapa tahun masih dijalankan oleh Meriam Belina (32). Warga Jatisari, kecamatan Penengahan, ini mengaku usaha jahitnya dijalankan berdasarkan pesanan.
Sebagai pengisi waktu luang di sela usaha jahit yang dijalankan, Lina, panggilan ibu beranak satu ini, memulai bisnis sampingan camilan kacang bawang.
Bisnis tersebut diakuinya menjadi upaya mengatur waktu untuk keluarga sekaligus menghasilkan pendapatan.
Lina menyebut, usaha camilan kacang bawang bermula dari banyaknya warung di wilayah tersebut belum menjual kacang bawang. Camilan gurih dan renyah tersebut awalnya kerap ia temui di bus yang dijual oleh pedagang dengan harga yang terjangkau.
Menyisihkan modal dari keuntungan usaha menjahit, Lina membeli bahan baku kacang tanah untuk pembuatan kacang bawang. Kacang dibeli dari pedagang besar dengan harga grosir.
“Modal awal saya belikan satu sak atau satu karung kacang tanah untuk bahan baku, selanjutnya terus bertambah seiring dengan banyaknya permintaan dari sejumlah warung dan pesanan untuk hari raya,” terang Meriam Belina, Selasa (10/4/2018).
Lina menyebut, pembuatan kacang bawang dilakukan saat dirinya tidak menerima pesanan jahitan baju. Setahun sebelumnya, Lina membeli satu sak berisi 50 kilogram kacang tanah dengan harga Rp1 juta. Harga tersebut diakuinya cukup menghemat modal dibandingkan membeli eceran Rp23.000, sementara dengan satu sak rata-rata per kilogram hanya seharga Rp20.000.
Selain kacang tanah, Lina juga membeli bawang putih, kemiri, garam untuk kebutuhan bumbu. Dalam satu kali proses pembuatan, Lina menyiapkan bahan sekitar 10 kilogram yang habis terjual setiap pekan.
Per kilogram kacang bawang yang sudah dibumbui dan digoreng menghasilkan sekitar 40 bungkus. Sebanyak 10 kilogram kacang bawang disebutnya bisa menghasilkan 400 bungkus atau kemasan plastik berukuran 6 x 20 centimeter.
“Karena bisnis ini masih sampingan, saya sengaja menitipkan hasil olahan kacang bawang ke warung-warung,” terang Lina.
Lina juga menyebut, harga kacang bawang buatannya dijual Rp1.000 per bungkus sehingga dengan produksi sebanyak 400 bungkus, ia bisa memperoleh Rp400 ribu.
Pembuatan kacang bawang dilakukan sepekan sekali sembari menunggu habisnya stok kacang bawang di sejumlah warung. Selain dijual di warung dalam bentuk kemasan, Lina juga menerima pesanan kacang bawang dalam toples dengan berat 1 kilogram seharga Rp35.000.
“Jelang hari raya Idul Fitri, banyak yang sudah memesan seperti tahun sebelumnya, biasanya kami buat pertengahan bulan Ramadan agar kacang tetap renyah,“ beber Lina.
Pada masa jelang Ramadan dan hari raya Idul Fitri, ia dibantu oleh beberapa wanita yang masih kerabat dan tinggal di dekat rumahnya. Pengolahan kacang bawang dikerjakan di rumah sejak pagi hingga siang.
Pada pagi hari, perendaman kacang, pengupasan kulit ari dilakukan dan penggorengan dilakukan saat sore. Selain masih bisa mengerjakan pembuatan baju pesanan dalam usaha jahitnya, ia masih bisa mengawasi proses pengolahan kacang bawang.
Lina menyebut, pemasaran camilan kacang bawang juga memanfaatkan media sosial. Usaha jahit rumahan yang ditawarkan melalui Facebook, WhatsApp sekaligus usaha camilan kacang bawang yang ditekuninya. Usaha yang bisa berjalan beriringan tersebut dilakukan dengan pola pengaturan waktu yang baik, termasuk memanfaatkan peluang.
Sekitar ratusan warung di sejumlah desa disebutnya sudah menjual kacang bawang buatannya yang cukup renyah dan gurih tersebut.
“Saya masih bisa mengerjakan usaha jahit, mengurus anak dan sekaligus menjalankan usaha sampingan pembuatan camilan,” ungkapnya.
Pesanan yang meningkat menjelang hari raya, menjadi peluang sehingga bahan baku dibelinya dalam jumlah banyak. Jenis kacang tanah pilihan yang terbilang cukup mahal menjadi salah satu kendala pencarian bahan baku. Sebab bahan baku kacang tanah merupakan kacang impor untuk jenis kacang super akibat kacang lokal yang ukurannya lebih kecil.
Beromzet sekitar Rp2 juta per bulan dalam usaha camilan kacang bawang, belum termasuk usaha menjahit, membuat ia terus mengembangkan usaha. Dibantu sang ibu, adik dan sejumlah keluarga, ia berencana membuat berbagai camilan jenis lain, di antaranya kue semprong, nastar,brownies, peyek kacang. Jenis kue tersebut merupakan pesanan untuk hari raya Idul Fitri.