Film Reuni Z, Tragedi Sebuah Reuni
Editor: Satmoko
JAKARTA – Kita tentu tak asing dengan istilah reuni. Sebuah ajang yang selalu ditunggu-tunggu untuk bertemu kembali dengan teman-teman lama setelah sekian lama berpisah.
Tapi dalam film reuni SMA Zenith, yang biasa disebut SMA Z, terjadi tragedi yang bukan saja mengacaukan acara reuni, bahkan mengancam keselamatan jiwa orang yang datang ke acara reuni karena hampir semua orang menjadi zombie. Demikian yang mengemuka dari film ‘Reuni Z’.
Film ini diawali dengan adegan Juhana yang diperankan Soleh Solihun membintangi iklan semprotan air yang dibuat komedi. Seorang perempuan mandi memakai shower tapi airnya mancet, kemudian Juhana datang dengan menyemprotkan air memakai pipa besar yang tentu membuat perempuan senang karena dapat mandi dengan air yang alirannya begitu lancar berlimpah ruah.
Juhana merasa karirnya mandeg dalam dunia hiburan karena selama ini ia merasa hanya dapat tawaran main film-film murahan. Hal itu karena ia menganggap manajernya kurang pandai mempromosikan dirinya. Seorang sutradara ternama yang diperankan Joko Anwar diceritakan sedang membutuhkan casting untuk film terbaru. Juhana sangat tertarik untuk main dalam film yang akan disutradarainya.
Kemudian, pada sebuah laboratorium ada seorang peneliti yang tampak sedang meneliti kera yang liar. Karena liar kera itu akan dikarantina, peneliti meninggalkan kera itu di luar. Saat itulah datang tukang bakso yang mencandai kera hingga tangannya dicakar. Karena dicakar kera liar itu membuat tukang bakso menjadi zombie dan bakso buatannya kemudian membuat orang yang memakan bakso tersebut juga menjadi zombie.
Setelah itu, berlangsung adegan acara reuni SMA Zenith yang berlangsung meriah. Di antara para alumni yang datang: Juhana, aktor spesialis film murahan yang sekarang sedang tenar-tenarnya dengan iklan semprotan air. Juhana tentu menjadi pusat perhatian acara reuni itu karena iklannya tenar di mana-mana.
Ada Jeffri (Tora Sudiro) dan istrinya Lulu (Ayushita) yang sedang mengalami krisis paruh baya. Jeffri dan Lulu memang teman sesama SMA yang bisa melanggengkan kebersamaan dengan hubungan sebagai sepasang suami-istri. Terbentuknya band Kagok Edan, salah satu alasannya, Jeffri ingin dekat dengan Lulu yang memang sangat dicintainya pada waktu SMA.
Ada juga sosok perempuan cantik misterius bernama Marina (Dinda Kanya Dewi), yang mengaku seangkatan namun tak dikenali oleh siapa pun. Marina dengan sangat terpaksa membuka identitas sebenarnya bahwa dulu sewaktu SMA bernama Mansyur yang terkenal dengan tingkah aneh suka mencabut bulu hidung.
Sekitar 20 tahun lalu, hubungan mereka sempat renggang. Karena band yang mereka bentuk sewaktu SMA bernama Kagok Edan pentasnya kacau sampai berkelahi di atas panggung. Rasa canggung masih terasa ketika mereka bertemu kembali sore itu. Apalagi, video band Kagok Edan diputar, yang membuat mereka kaget tak terkira.
Kemeriahan reuni SMA Zenith buyar ketika para cheers leader berubah menjadi zombie dan menyerang para alumni. Tentu saja cheers leader yang zombie itu juga makan bakso dari tukang bakso yang sudah menjadi zombie.
Jeffri, Juhana, Lulu dan Marina pun harus berjuang untuk survive. Mereka tidak ingin menjadi zombie yang membuat orang mati tapi tetap seperti orang yang masih hidup dengan gentayangan mencari korban lain dan menjadikannya sebagai zombie juga. Reuni yang harusnya waktu untuk melepas kangen berubah jadi waktu untuk teman makan teman!
Film yang digarap oleh sutradara Monty Tiwa dan Soleh Solihun, sangat menarik. Keduanya mencoba untuk membuat terobosan baru. Dari tema reuni yang banyak masyarakat lakukan digabung dengan zombie.
Monty Tiwa adalah sutradara dan penulis skenario yang sudah melahirkan banyak film seperti di antaranya: Mendadak Dangdut (2006), Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007), Kalau Cinta Jangan Cengeng (2009), Laskar Pemimpi (2010), Operation Wedding (2013), Aku, Kau, dan KUA (2014). Sabtu Bersama Bapak (2016), Raksasa dari Jogja (2016), Critical Eleven (2017).
Sedangkan Soleh Solihun yang dikenal sebagai artis stand up komedi ini tidak hanya berperan sebagai sutradara, melainkan ikut berperan dalam film tersebut. Ini film kolaborasi kedua, penyutradaraan Monty Tiwa dengan Soleh Solihun, setelah sebelumnya juga mereka berdua kolaborasi dalam film ‘Mau Jadi Apa?’ pada tahun 2017 lalu. Film ini menjadi bukti kekompakan mereka berdua dalam menyutradarai.
Akting Soleh Solihun sebagai pemain dalam film ini tak terlalu menonjol, meski perannya besar dan sangat mendominasi, bahkan menjadi pemeran utama. Hal itu mungkin karena selama ini banyak menjadi figuran. Sehingga para penonton lebih memperhatikan Tora Sudiro atau Ayushita yang memang lebih sering menjadi pemeran utama. Tora dan Ayushita yang kedua berperan sebagai sepasang suami istri menjadi lebih menonjol.
Kemudian, yang perlu mendapat apresiasi tentu Dinda Kanya Dewi yang mendapat peran sangat menantang menjadi transgender. Dinda yang memang seorang perempuan harus mampu memainkan karakter transgender bernama Marina yang sebelumnya diceritakan bernama Mansyur. Gesture-nya pun harus menunjukkan masih maskulinnya Marina. Juga suaranya kadang harus suara lelaki.
Akting Anjasmara dengan Dian Nitami, yang di kehidupan nyata sebagai sepasang suami istri, tapi dalam film ini diceritakan sudah pisah dan masing-masing punya pasangan sendiri-sendiri. Anjasmara diceritakan sudah menikah lagi dengan perempuan yang sangat genit.
Kebalikannya, Dian Nitami justru diceritakan sudah menikah lagi dengan lelaki yang sangat alim. Pada beberapa adegan dibuat Dian cemburu dengan perempuan yang sangat genit itu.
Film ini mengangkat tema yang sangat beda dari film-film Indonesia sebelumnya. Genre horor komedi dengan menghadirkan zombie yang memang jarang disentuh sineas kita. Karena film-film horor kita selama ini hanya seputar hantu-hantu yang terkesan mistik. Film ini memang bisa menjadi alternatif tontonan.