Duterte Siap Perbarui Perundingan Dengan Pemberontak Mao  

Presiden Filipina Rodrigo Duterte - Foto: Istimewa

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan kesediaannya membuka kembali perundingan perdamaian dengan pemberontak Mao. Pernyataan tersebut disampaikan empat bulan setelah upaya perundingan keduanya terhenti.

Duterte sempat menyatakan adanya upaya memperlakukan kelompok komunis itu sebagai teroris. Kementerian kehakiman setempat pada Februari meminta pengadilan daerah menyatakan Partai Komunis Filipina (CPP) beserta sayap bersenjatanya, Tentara Rakyat Baru (NPA), sebagai kelompok teroris.

Hal tersebut memunculkan rencana Duterte untuk memusnahkan ketika mulai menjabat sebagai presiden pada Juli 2016. Duterte membebaskan beberapa pemimpin Maois dan menunjuk tokoh kiri menduduki jabatan di kabinet guna menarik mereka ke meja perundingan.

Namun, upaya perdamaian itu ditinggalkan pada November di tengah kemarahan Duterte atas yang disebutnya serangan berulang oleh gerilyawan tersebut selama perundingan. “Kita bukan musuh,” kata Duterte, Selasa (3/4/2018).

Duterte menyebut, ketidaksepahaman antara pemerintahannya dan para pemberontak seperti pertengkaran sebuah pasangan, yang pada akhirnya akan selesai. Upaya mengakhiri perang  yang telah berlangsung hampir setengah abad lamanya, menjadi salah satu prioritas Duterte ketika mulai menjabat presiden. Perang itu telah menewaskan lebih dari 40.000 orang.

Pelaksanaan rangkaian perundingan untuk mengakhiri pemberontakan selama ini berlangsung tidak konsisten sejak perundingan ditengahi oleh Norwegia pada 1986. “Mari kita sepakati beberapa hal mendasar,” kata Duterte.

Ia menambahkan bahwa dirinya siap mengeluarkan dana untuk memberikan subsidi bagi kalangan pemberontak. Namun, sebelum memulai kembali perundingan, Duterte mengatakan bahwa pemberontak itu harus setuju melakukan gencatan senjata, menghentikan pemerasan serta meninggalkan keinginan mereka membentuk pemerintahan koalisi. (Ant)

Lihat juga...