Musim Hujan Berdampak Kematian Pada Pengungsi Rohingya
SINGAPURA – Badan penasihat antarbangsa Myanmar urusan Rohingya pada Selasa (3/4/2018) menyatakan, musim hujan mendatang dapat mengakibatkan kematian besar bagi pengungsi Rohingya. Hal itu dikarenakan kampung pengungsi di Bangladesh, negara tetangganya, tidak dibangun untuk tahan badai.
Kelompok hak asasi menyatakan, sekitar 700.000 warga Rohingya lari dari kekerasan dan melintasi perbatasan negara bagian Rakhine, Myanmar, sejak Agustus. Sebagian besar tinggal di tempat rapuh terbuat dari bambu dan plastik, yang bertengger di bukit bekas hutan di Cox’s Bazaar.
“Kami berpacu dengan waktu. Bagi kami, musim hujan datang. Kampung berpenghuni hampir satu juta orang itu tidak dibangun untuk menahan badai. Akan ada kematian dalam jumlah sangat besar jika semua pihak tidak memahami pemulangan, tidak memahami soal bantuan,” kata Kepala Sekretariat Badan tersebut Kobsak Chutikul pada jumpa pers di Singapura, Selasa (3/4/2018).
Saat ini kesepakatan rencana pemulangan pengungsi antara negara bertetangga itu tertunda. Bangladesh bergegas menyiapkan rumah baru di pulau terdekat, Bhasan Char, sebelum angin topan, yang bisa tiba pada akhir bulan ini.
Dewan Penasihat untuk Panitia Penerapan Saran tentang Negara Bagian Rakhine itu dibentuk di Myanmar pada tahun lalu memberi nasihat tentang cara merumuskan temuan kelompok sebelumnya, yang dipimpin mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan. Pencontohan komputer oleh badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 pengungsi terancam tanah longsor dan banjir pada musim hujan mendatang.
“Musim hujan biasanya dimulai pada April dan memuncak pada Juli,” kata Departemen Meteorologi Bangladesh.
Pernyataan Chutikul disampaikan setelah terjadinya aksi Malaysia menyergap kapal 56 pengungsi Rohingya dari Myanmar di lepas pantai utara pulau Langkawi di negara itu sesudah badai. Malaysia akan mengizinkan mereka masuk dengan alasan kemanusiaan sementara kelompok hak asasi memperkirakan lebih banyak perjalanan berbahaya lewat laut seperti itu.
Rohingya meninggalkan rumah mereka di Rakhine ke Bangladesh setelah serangan pada Agustus tahun lalu memicu tindakan keras tentara, yang disebut PBB dan negara Barat sebagai pembersihan suku. Myanmar, yang sebagian besar penduduknya beragama Buddha, menolak tuduhan itu, dengan menyatakan pasukannya melancarkan tindakan sah terhadap teroris, yang menyerang pasukan pemerintah. (Ant)