Bagi Dinihari Melukis adalah Terapi

Editor: Irvan Syafari

JAKARTA — Sebuah lukisan terpampang di dinding Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sepintas agak sulit mennagkap apa yang dilukis, ada obyek dikelilingi sapuan warna mirip pelangi. Yang menarik lukisan itu diberi tali-temali. Lukisan diberi judul “Mother’s Madness”. Pelukisnya Dinihari Suprapto.

“Simbol tali-temali yang saya gunakan sebagai semacam gambaran betapa emosi seorang ibu sukar diurai sehingga apa yang ada di dalam diri seorang ibu sangat mempengaruhi sekelilinginya,” kata Dini.

Dini adalah salah satu peserta Pameran “Ekspresi Ragam Jiwa” yang berlangsung sejak 2 April hingga 13 April 2018. Pameran itu diikuti oleh sejumlah pelukis penderita bipolar. Dini mengatakan, melukis adalah terapi bagi dirinya.

Dini, sapaan akrab perempuan berjilbab, itu tampak sudah tidak asing dengan pameran dalam rangka memperingati Hari Bipolar Sedunia.

“Saya untuk kedua kalinya ikut pameran seperti ini,” kata Dinihari Suprapto, peserta pameran, kepada Cendana News.

Tahun lalu, Dini juga ikut pameran, tapi menurut Dini pamerannya tidak sebesar sekarang ini.

“Lukisan itu menggambarkan emosi yang saya dapat dari ibu saya, di mana saya merasa apapun yang dilakukan seorang ibu itu menjadi semacam atmosfir yang akan mempengaruhi semua yang ada di sekelilingnya, yaitu kemarahannya, pengobanannya, cintanya, itulah yang melatar belakangi saya memberi judul lukisan Mother’s Madness,” bebernya.

Dini mengaku membuat lukisan tersebut sekitar sebulan lamanya.

“Idenya dari ibu saya, dimana saya ingin membuat sesuatu untuk ibu saya, awalnya agak sulit menerjemahkan hingga sampai hasilnya seperti sekarang ini, “ ujarnya.

Ibunya Dini sudah melihat hasil lukisannya.

“Tanggapan ibu saya senyum-senyum saja melihat karya lukisan saya, “ ucap Dini seraya tertawa.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan untuk terjun menjadi pelukis profesional? Dengan tenang, Dini memberikan jawaban, “Saya mengalir saja, tidak mematok saya ingin terjun sebagai pelukis profesional, tapi sejauh ini saya masih melukis sebagai terapi. “

Dini mengaku melukis sudah sekitar tiga tahun dengan berbagai media, mulai dari pasir cutembut, kapas maupun media lainnya.

“Saya menyebut media karya lukisan saya sebagai jaring pengaman yang saya buat untuk mengamankan diri saya ketika sedang naik maupun turun. Jaring pengaman itu semacam ritual saya atau terapi saya ketika saya sedang down,” tandasnya.

Lihat juga...