APRS III Relevan Bahas Karbon Biru

JAKARTA – Agenda Asia Pacific Rainforest Summit (APRS) III sangat relevan untuk membicarakan karbon biru. National Focal Point Indonesia untuk UNFCCC Nur Masripatin mengatakan, Indonesia memiliki potensi karbon Biru yang begitu besar.

“Terkait karbon biru, karena kita sudah lihat dari berbagai riset telah buktikan potensinya cukup besar, mangrove yang paling sudah terhitung,” kata Masripatin di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Masripatin menyebut, laporan hasil panel antar pemerintah tentang perubahan iklim (intergovernmental panel on climate change/IPCC) akan segera dikeluarkan sebelum pelaksanaan konferensi para pihak (Conference of Parties/COP) 24. Rekomendasinya terkait perubahan iklim di Polandia, sehingga relevan untuk membahas persoalan karbon biru untuk mengetahui kemajuannya seperti apa.

“Diagenda aksi (APRS) biasanya ada kesepakatan untuk penguatan pengendalian perubahan iklim di kawasan Asia Pasifik. Untuk itu tidak ada salahnya kita ajukan isu kelautan,” ujar Masripatin yang juga merupakan Penasihat Senior untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Perubahan Iklim dan Konvensi Internasional.

Dirjen Pengendalian Daerah Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) I.B. Putera Parthama mengatakan, karbon biru merupakan new frontier. Indonesia memiliki potensi besar untuk menyerap karbon, sehingga sangat berpeluang Indonesia bisa memimpin untuk isu ini di COP24 di Polandia, mengingat penelitiannya juga sudah banyak.

Sementara itu ilmuwan sosioekonomi dan analis kebijakan dalam Tim Lanskap dan Sistem Pangan Berkelanjutan di CIFOR Ani Adiwinata Nawir mengatakan, untuk konteks Indonesia sangat penting berbicara dalam konteks restorasi terkait karbon biru. “Apalagi pasca tsunami, banyak karang maupun ekosistem pesisir yang perlu direstorasi. Penting juga dilakukan di daerah rawan bencana untuk konteks restorasi yang sedang menjadi isu global,” lanjutnya.

Asia Pacific Rainforest Summit III akan digelar Pemerintah Indonesia dan Australia di Yogyakarta pada 23 hingga 25 April 2018. Akan hadir lima menteri dari lima negara selain Indonesia dalam pertemuan tersebut. Terdapat sekitar 950 peserta yang mendaftar, dan sekitar 200 orang berasal dari luar negeri dan mewakili lima benua. (Ant)

Lihat juga...