Tingkatkan Daya Saing, Din Syamsuddin: Negara Harus Hadir Berikan Proteksi

Editor: Irvan Syafari

Ketua Pergerakan Indonesia Maju (PIM), Din Syamsuddin pada saresehan bertajuk "Menggenjot Daya Saing untuk Kemakmuran Bangsa" di Kantor PMI,Jl.Brawijaya, Jakarta, Kamis (15/3/2018)-Foto : Sri Sugiarti.

JAKARTA — Ketua Pergerakan Indonesia Maju (PMI) Din Syamsuddin mengatakan, peningkatkan daya saing tidak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM). Maka itu, Indonesia harus serius dalam usahanya mewujudkan cita-cita bangsa, seperti yang tercantum dalam naskah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

“Cita-cita nasional kita pada ujungnya membawa kemajuan bangsa seperti yang tertuang dalam UUD 1945, yaitu mewujudkan bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ujar Din pada sarasehan bertajuk “Menggenjot Daya Saing untuk Kemakmuran Bangsa” di Kantor PMI, Jl. Brawijaya VIII, Jakarta, Kamis (15/3).

Din menegaskan, tidak cukup dengan berpikir dan berdiskusi untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Menurutnya, pembangunan yang sekadar membangun dan tidak berkelanjutan akan sia-sia. Karena kemajuan itu adalah untuk semua bidang, baik ekonomi dan kebudayaan dalam konsep modern.

“Pembangunan berkelanjutan adalah konsep yang modern,” tegas Ketua Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia ( Wantim MUI) ini.

Dikatakan Din, bahwa pembangunan berkelanjutan bukan berarti terus menerus membangun infrastruktur fisik. Tetapi juga harus menyiapkan SDM yang berkualitas dan menciptakan pemerataan kesejahteraan peningkatan ekonomi. “Apa artinya gedung bercakar langit sebagai simbol kemajuan bangsa, tapi di bawahnya ada gubuk terhampar,” kata Din.

Globalisasi mengharuskan adanya persaingan kualitas. Saat ini terjadi fenomena kebangkitan Asia Timur di mana Indonesia berada di dalamnya. Barang-barang dari China mengalir deras masuk ke negara-negara di Asia Timur.

Ini menurut Din, juga membawa perubahaan politik dan ekonomi global dengan terjadinya pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia dari Atlantik ke Pasifik.

“Saya kira membawa tantangan tersendiri kepada Indonesia. Negara harus hadir memberikan proteksi yang didukung oleh landasan budaya,” kata Din.

Adapun kata Din, peringat daya saing (global competition index), yang dirilis World Economic Forum (WEF) belum lama ini memperlihatkan posisi Indonesia menurun. Pada periode 2015-2016, posisi Indonesia masih berada di peringkat ke 37 dari 138 negara.

Pada 2016-2017 Indonesia turun ke peringkat 41. Posisi Indonesia ini berada di bawah negara Singapura yang berada di urutan ke 2, Malaysia ke 18 dan Thailand urutan ke 13.

Sedangkan pendapatan per kapita negara-negara ASEAN yang paling tinggi adalah Singapura sebesar 52,888 US dolar atau sekitar Rp 58,176.800 per kapita per bulan. Kemudian disusul, Brunei Darussalam 28,237 US dolar, Malaysia 9,557 US dolar, Indonesia 3,362 US dolar dan Vietnam sebesar 2,088 US dolar.

Pendapatan per kapita Indonesia setara dengan Rp3, 698,200 per bulan. Ini artinya, kata Din, pendapatan rata-rata penduduk Singapura adalah 15 kali lebih besar dari rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia.

Lihat juga...