Ruhana Kuddus Dinilai Layak Menjadi Pahlawan Nasional
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Sejarawan Sumatera Barat, Mestika Zed mengatakan, terlepas dari soal pengaruhnya di daerah, Ruhana Kuddus merupakan seorang perempuan yang menjadi inspirasi bagi para perempuan, yang gemanya tidak hanya di Sumatera Barat, tapi hingga ke tanah air ini.
Bahkan, kini dirinya bersama rekannya tengah menyelesaikan sebuah buku yang menceritakan riwayat Ruhuna Kuddus. Membuat buku itu Mestika Zed telah mengumpulkan sejumlah data dan informasi, baik dari perpustakaan maupun dari keluarga Ruhana Kuddus yang ada di Kabupaten Agam.
Menurutnya, Ruhana Kuddus layak untuk menjadi pahlawan nasional. Karena perempuan pertama di Indonesia menjadi wartawati melalui media Oetusan Melayu yang ketika itu berkantor di Batavia yakni sekarang Jakarta.
Setelah itu, Ruhana Kuddus kembali ke Sumatera Barat dan bertemu dengan salah seorang wartawan hebat di Sumatera Barat dan bekerjalah Ruhana Kuddus di media Soenting Melayu. Karya-karya tulisannya yang berbicara seputar perempuan, menimbulkan keinginan perempuan-perempuan ketika itu untuk mendapatkan ilmu pendidikan yang setara dengan para laki-laki lainnya.
Selain di media massa, Ruhana Kuddus juga merupakan perempuan yang menggerakan rasa semangat para perempuan di Sumatera Barat, melalui kerajinan yang bisa menghasilkan uang. Sehingga dengan demikian, perempuan tidak lagi dicap hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.
“Yang saya pahami bahwa peran Ruhana Kuddus merupakan titik awal membuat perempuan memiliki pengaruh dalam perjuangan Sumatera Barat untuk Indonesia,” ucapnya.
Mestika Zed menilai, perjuangan Ruhana Kuddus bukanlah melalui tulisan di media massa untuk melawan para penjajah ketika itu. Tapi perjuangan Ruhana Kuddus merupakan langkah yang belum pernah dilakukan dan diperkirakan akan sulit dilakukan.
Melalui perannya berbagi sejumlah hal kepada para perempuan, turut membuat perempuan memiliki ilmu pendidikan. Dengan adanya modal ilmu pendidikan itu, para perempuan ketika itu turut membantu perjuangan bagian daerah di Indonesia, untuk mencapai kemerdekaan.
Sementara itu, Sejarawan Nasional, Prof. Taufik Abdullah mengatakan, butuh usaha yang ekstra untuk memperjuangan Ruhana Kuddus menjadi pahlawan nasional. Hal ini dikarenakan, Ruhana Kuddus dinilai memiliki pengaruh hanya di tingkat daerah, dan belum sampai memberikan pengaruh ke tingkat nasional.
Menurutnya, berbeda dengan Mohammad Hatta, Agus Salim, Sutan Syahrir, Muhammad Nasir, Tan Malaka, Rasuna Said, dan 15 orang di antaranya yang merupakan asal Sumatera Barat yang menjadi pahlawan nasional, memiliki pengaruh hingga ke nasional.
“Mereka itu dari daerah, tapi perannya sudah nasional. Sementara Ruhana Kuddus perannya baru di daerah Sumatera Barat saja,” katanya, usai menyampaikan materi pada Seminar Nasional Gelar Pahlawan Nasional untuk Ruhana Kuddus, di Padang, Rabu (28/3/2018).
Ia mengaku berbicara soal pantas atau tidaknya jadi pahlawan nasional terpulang kepada masyarakat di Sumatera Barat. Jika masyarakat merasakan Ruhana Kuddus pantas, maka bisa diperjuangkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional.
“Tapi tentunya perlu untuk menjalani sejumlah prosedur dalam hal pengusulan seseorang menjadi pahlawan nasional. Seperti halnya menggelar seminar hari ini dan perlu adanya sebuah buku tentang jejak Ruhana Kuddus,” ujarnya.