Perubahan Iklim Berpotensi Turunkan Produksi Padi di Sumbar
PADANG — Analis Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sicincin, Sumatera Barat Rizky Armei Saputra mengungkapkan perubahan iklim berpotensi menurunkan produksi pangan di Sumbar karena terjadi peralihan komoditas yang ditanam petani.
“Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 2017, sejumlah daerah di Sumbar kian kering, yaitu Luhak, Situjuh, Sijunjung, Sukarami, Lima Kaum, Lubuk Basung, Padang laban, Sungai Dareh, dan Sungai Langsat,” kata dia, di Padang, Jumat.
Menurutnya, daerah yang mengalami kekeringan tersebut merupakan salah satu sentra padi di Sumbar.
“Akibatnya petani di daerah itu yang biasa menanam padi dua atau sekali dalam setahun, karena kurang ketersediaan air memilih mengganti padi dengan palawija,” katanya lagi.
Ia menemukan cukup banyak lahan yang tidak dapat diolah untuk menanam padi karena kurang ketersediaan air, dan petani menggantinya dengan palawija.
Sebagai lumbung padi nasional berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, produksi padi Sumbar pada 2017 mencapai 2.773.478 ton per tahun dengan luas lahan sekitar 507.545 hektare.
“Namun, perubahan iklim dan kenaikan suhu udara berpengaruh pada pola tanam, waktu tanam, produksi dan kualitas hasil,” katanya.
Ia mengatakan fenomena pemanasan global telah memicu peningkatan cuaca ekstrem yang dapat menurunkan produksi pertanian antara 5 hingga 20 persen.
“Ini menjadi tantangan dalam upaya peningkatan produksi padi nasional,” kata dia.
Ia menyarankan petani perlu beradaptasi menghadapi perubahan iklim tersebut Upaya adaptasi dan mitigasi harus terus dilakukan oleh pemerintah dalam memonitor iklim agar mencapai target swasembada padi yang ditetapkan, katanya lagi.
Dia mengingatkan penting kerja sama lintas intansi dengan BMKG untuk mengembangkan inovasi dan teknologi penyediaan informasi iklim yang cepat, tepat, akurat, luas dan mudah dipahami masyarakat.
“Kemudian, penyuluh lapangan perlu lebih proaktif memberikan pemahaman soal iklim kepada petani,” ujarnya pula.
Rizky menjelaskan bahwa Sumbar merupakan daerah tropis yang dilalui garis khatulistiwa dengan pola curah hujan ekuatorial ditandai dengan dua puncak musim hujan dalam satu tahun, yaitu puncak pertama pada Maret dan puncak kedua pada November.
Berdasarkan rata-rata curah hujan, BMKG membagi Sumbar menjadi zona musim (ZOM) dan non-zona musim (Non ZOM) ditandai dengan mengalami musim hujan sepanjang tahun.
Daerah non-zona Musim yaitu Pasaman Barat, Pasaman, Agam bagian barat, Padang Pariaman, Pariaman, Padang Panjang, Pesisir Selatan, dan Kepulauan Mentawai.
Sedangkan daerah ZOM meliputi Rao (Pasaman), Limapuluh Kota, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Agam bagian timur, Tanah Datar, Solok, Sijunjung, Sawahlunto, Dharmasraya, dan Solok Selatan.
Sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno meminta penyuluh pertanian yang ada di wilayah itu memaksimalkan peran mendampingi petani dalam rangka mewujudkan swasembada pangan dengan target produksi tiga juta ton beras.
“Keseriusan penyuluh pertanian merupakan kata kunci untuk mengubah perilaku petani agar hasil panen meningkat dengan menerapkan metode yang lebih efisien,” kata Irwan lagi.[ant]