Nelayan di Lamsel Olah Ikan Asin Sampah untuk Pakan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Melimpahnya hasil laut di perairan timur Lampung, tepatnya di wilayah desa Bandar Agung kecamatan Sragi Lampung Selatan membuat masyarakat memanfaatkan untuk berbagai hal. Mulai dari pembuatan ikan asin hingga pakan untuk budidaya udang, lele hingga patin.

Salah satu pengepul di wilayah setempat, Nurul (32) menyebutkan, jenis hasil tangkapan nelayan beraneka ragam, di antaranya japu, layur kecil, udang, petek hingga selar. Ikan tersebut kemudian disortir sesuai kualitas dan dijemur dengan cara tradisional.

“Saat kondisi panas penjemuran makan waktu satu hari,” beber Nurul kepada Cendana News, Senin (19/3/2018).

Dijelaskan, jenis ikan dengan kualitas bagus seperti selar, layur, cumi dan jenis ikan teri akan dibuat menjadi ikan asin. Sementara ikan dengan kualitas yang lebih rendah dipisah sebagai bahan baku pembuatan pakan.

“Harga jual ikan kualitas baik yang sudah diasinkan mulai Rp8.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Jenis ikan bahan baku pakan dijual dengan harga Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram.” terangnya.

nelayan muara sungai Way Sekampung
Ahmad Rizal, ketua kelompok nelayan Usaha Baru dusun Kuala Jaya kecamatam Sragi Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Sementara itu, ketua kelompok nelayan Usaha Baru yang berada di daerah setempat menyebutkan, rantai produksi hasil perikanan tidak lepas dari nelayan tangkap hingga nelayan budidaya.

“Hasil tangkapan ikan konsumsi disebutnya bisa dijual ke pelelangan ikan dengan pendapatan nelayan rata rata Rp500 ribu hingga Rp2 juta per hari tergantung hasil tangkapan,” sebutnya.

Jenis ikan yang harus diolah seperti ikan asin diakuinya membutuhkan proses berhari hari. Sebagian bahkan dijual setelah terkumpul dalam jumlah minimal 100 kilogram di tingkat nelayan produsen ikan asin dan 1 ton di kelompok nelayan.

Sementara bahan baku pembuatan pakan sebagian dijual dengan permintaan minimal 5 ton perbulan dikumpulkan dari nelayan. Dijual dengan harga rata rata Rp5 ribu sebanyak 5 ton kelompok nelayan sekali pengiriman bisa mendapatkan omzet sekitar Rp25 juta.

“Keberadaan sektor usaha tambak, kolam dan peternakan unggas tentunya mendorong pemanfaatan potensi yang ada termasuk ikan asin sampah,” bebernya.

Permintaan ikan asin sampah sebagai bahan pembuatan pakan udang diakuinya cukup tinggi. Ikan yang sudah dikumpulkan disebutnya akan digiling menjadi bubuk dan dicampurkan dengan bahan lain di antaranya dedak, tepung serta nutrisi lain.

“Bahan pakan tersebut banyak dimanfaatkan untuk pakan udang, bandeng, udang vaname, ikan lele dan ikan patin,” sebutnya..

Permintaan produsen lokal pakan hingga produsen luar daerah disebutnya memberi keuntungan bagi nelayan setempat. Kelompok nelayan sebagai pengepul diakuinya memudahkan nelayan kecil menjual produksi dan produsen pakan bisa memasok bahan baku dalam jumlah tetap secara kontinu.

Lihat juga...