Lima dari 168 Sapi Hasil IB Distan Sikka Sudah Melahirkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Dinas Pertanian (Distan) kabupaten Sikka melalui bidang Peternakan selama tahun 2017 telah melakukan Inseminasi Buatan (IB) lewat program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting) terhadap 168 ekor sapi betina dimana lima ekor di antaranya telah melahirkan.

“Sebanyak 30 ekor sapi lainnya sedang bunting. Kami juga tengah melakukan pemantauan pada ternak lainnya,” ujar Yosef Samson Cresensius, petugas IB bidang Peternakan dinas Pertanian kabupaten Sikka Senin (5/3/2018).

Dikatakan Yosef, sperma atau semen dari sapi jantan yang banyak digunakan berasal dari sapi lokal seperti jenis sapi Bali dan Lombok. Ada juga jenis sapi unggul dari luar negeri seperti Limosin, Simantal, Ongole dan Angus yang juga sering dipergunakan.

“Memang tingkat keberhasilannya tergantung kepada masa birahi yang sedang terjadi pada sapi dimana selama ini kendalanya saat sapi memasuki masa birahi atau musim kawin pemilik terlambat menginformasikan kepada kami,” tuturnya.

Untuk sapi lokal yang baru pertama bunting sebut Yosef, sperma untuk inseminasi buatan dipilih dari jenis lokal.Bila menggunakan jenis sperma sapi luar negeri maka sapi betina akan kesulitan saat melahirkan dan bisa mengakibatkan anak sapinya meninggal.

“Kalau sapi betina yang belum pernah melahirkan kami lebih memilih melakukan IB menggunakan sperma sapi lokal karena anak yang dilahirkan lebih kecil postur tubuhnya. Kalau gunakan sprema sapi luar negeri sering terjadi kesulitan saat melahirkan nantinya,” katanya.

Sementara bila bibit sapi betinanya tergolong besar dan berbadan kekar lanjut Yosef, maka sperma untuk IB dipilih dari jenis sapi luar negeri. Banyak sapi hasil IB dengan jenis Limosin, Angus dan Ongole, anak yang dilahirkan juga memiliki postur kekar dan tinggi besar.

IB Distan Sikka
Petugas bidang Peternakan dinas Pertanian kabupaten Sikka sedang melakukan inseminasi buatan pada sapi milik peternak perorangan.Foto : Ebed de Rosary

Sementara itu kepala bidang Peternakan dinas Pertanian kabupaten Sikka Yeremias Dewa, SPt. MP kepada Cendana News menjelaskan, keberhasilan IB di kabupaten Sikka ditentukan dari deteksi birahi, waktu pelaksanaan IB, keterampilan petugas, kondisi reproduksi sapi betinanya dan kualitas sperma bekunya.

“Pemantauan masa birahi dilakukan oleh pemilik sapi dan banyak pemilik yang terlambat menginformasikan kepada petugas. Selain itu setelah dilakukan IB pemilik juga tidak menginformasikan perkembangannya,” ungkapnya.

Yeremias menambahkan, program IB ini memang terus dilakukan setiap tahun mengingat ini merupakan program nasional untuk mencari jenis sapi bibit unggul. Kebanyakan sapi jantan lokal yang ada di petani bibitnya kurang bagus sehingga keturunan yang dihasilkan pun tidak baik.

“Kami tetap melaksanakan IB pada sapi-sapi yang tersebar di tangan petani pada 21 kecamatan yang ada di kabupaten Sikka. Kecamatan yang menjadi sentra produksi sapi seperti Talibura, Waigete dan Magepanda,” pungkasnya.

Lihat juga...