Hujan Deras, Usaha Pembuatan Bata dan Genteng Terhambat
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Kondisi curah hujan tinggi dalam satu bulan terakhir berimbas pada pemilik usaha kecil pembuatan batu bata dan genteng di wilayah Kecamatan Palas.
Maksum (40) salah satu pemilik usaha pembuatan batu bata di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas menyebut, hujan berpengaruh pada proses pembuatan dan pengeringan. Proses pembuatan yang kerap dilakukan di halaman disebutnya terkendala hujan yang kerap turun sewaktu-waktu menghancurkan bata yang sudah dicetak.
Maksum bahkan menyebut lokasi pembuatan dan pembakaran batu bata (tobong) yang tinggi bahkan sebagian tergenang air. Akibatnya, ia dan sejumlah pemilik usaha pembuatan batu bata memilih istirahat sementara waktu. Sebagian batu bata yang sudah dikeringkan mulai disimpan di tobong dengan alas serta penutup plastik. Sementara sebagian batu bata yang sudah tercetak dan terendam air dibiarkan hancur kembali menjadi tanah.
“Sebulan terakhir proses pembuatan batu bata terhambat karena hujan kerap terjadi siang dan malam hari, imbasnya kami sulit menjemur dan bahkan membakar batu bata,” terang Maksum, salah satu perajin pembuatan batu bata di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas saat ditemui Cendana News, Selasa (6/3/2018).
Maksum menyebut sebanyak 10.000 batu bata yang sudah dicetak terpaksa diselubungi dengan plastik. Plastik tipis tersebut dibeli dengan harga Rp1.000 per meter dengan kebutuhan mencapai 300 meter. Kebutuhan plastik sangat penting selama musim penghujan menghindari kerusakan pada batu bata yang sudah dibuat. Penjemuran dengan panas sinar matahari diakui Maksum masih menjadi pengering alami batu bata miliknya.
Dampak hujan selain berpengaruh pada proses pencetakan hingga pengeringan juga pada batu bata yang sudah dibakar. Maksum menyebut, imbas hujan bata yang berada di tobong pembakaran terpaksa masih ditutup dengan terpal dan plastik dan belum dibongkar menunggu musim hujan reda. Bagi pemilik tobong permanen menggunakan atap ia menyebut tidak khawatir namun sejumlah perajin batu bata masih memiliki tobong terbuka.
“Kemarin ada pemesan batu bata terpaksa ditunda menunggu kondisi cuaca panas karena jika bata kerap terkena hujan kualitasnya jelek,” beber Maksum.
Harga batu bata saat musim penghujan disebutnya kerap bisa naik dari semula Rp290.000 per seribu bata menjadi Rp320.000. Meski naik ia mengaku memilih harga tetap stabil dengan kondisi cuaca panas. Meski harga mahal, saat kondisi musim hujan akibat kelangkaan batu bata, tingkat kesulitan juga lebih tinggi.

Toto (30) pembuat genteng di dusun tersebut mengaku, proses pembuatan genteng akan dilanjutkan saat curah hujan mulai mereda. Meski demikian sejumlah genteng yang sudah terlanjur dicetak dikeringkan dengan proses menganginkan di rak-rak khusus. Saat kondisi panas genteng akan dijemur diterik matahari selama satu hari penuh. Harga genteng per seribu jenis press disebut Toto saat ini berkisar Rp900 ribu pers eribu batu bata.
“Halaman depan rumah sempat tergenang air dan menunggu kering karena lokasi halaman lebih rendah dari jalan,” terang Toto.
Hujan deras yang melanda wilayah tersebut selain menghambat proses pembuatan genteng juga distribusi barang. Akibat terputusnya akses jalan penghubung dampak banjir, hujan deras diakui Toto membuat para pengojek batu bata dan genteng sulit melintas. Imbasnya distribusi genteng dan batu bata terhambat akibat akses jalan tak bisa dilintasi.
Dampak hujan juga disebut Toto masih memiliki dampak jangka panjang akibat kerusakan jalan di ruas jalan provinsi Palas. Sejumlah perajin genteng seperti Toto mengeluhkan kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki. Imbasnya jalan berlubang kerap membuat mobil pengangkut genteng dan bata mengalami kerusakan.
“Sekali mengangkut batu bata dan genteng bisa mencapai ribuan tapi karena kerusakan jalan selama musim hujan membuat mobil bisa rusak,” bebernya.
Toto berharap cuaca yang kerap hujan bisa reda sehingga perajin genteng dan batu bata di wilayah tersebut bisa kembali beroperasi. Selain menghambat proses pencetakan hingga pengeringan, hujan yang merusak jalan ikut menghambat distribusi batu bata dan genteng ke konsumen sebagai bahan bangunan.