Deteksi Hoax, Polda Sumbar Lakukan Patroli Dunia Maya

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Direktur Binmas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Nasrun Fahmi/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Direktorat Bina Masyarakat (Binmas) Polda Sumatera Barat membentuk Satgas Nusantara yang terdiri dari kemitraan dengan humas yang bergerak untuk mendeteksi penyebaran informasi hoax atau bohong. Satgas Nusantara itu bertugas untuk melakukan patroli di dunia maya.

Direktur Binmas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Nasrun Fahmi mengatakan, sehubungan akan diselenggarakannya pilkada dan pileg serta pilpres 2019 mendatang, patroli di dunia maya semakin digencarkan.

“Patroli di dunia maya sebenarnya sudah lama dilakukan, mulai dari Mabes Polri hingga ke daerah yakni Polda. Khusus pemilu ini kita bergerak lebih intens lagi,” sebutnya, Jumat (16/3/2018).

Ia menyebutkan, sepanjang dilakukannya patroli di dunia maya yang berupaya menangkal, di Sumatera Barat belum ditemukan sumber penyebar hoax. Kendati demikian meski tidak ditemukan, ia menduga bisa saja disebarkan melalui cara yang lainnya.

Menurutnya untuk daerah Sumatera Barat belum ada ditemukannya kasus. Tapi dalam pemilu mendatang, akan dilakukan pendeteksian penyebaran hoax.

“Sejauh ini upaya dari Polda Sumatera Barat untuk memberikan pahaman kepada masyarakat agar waspada terhadap informasi hoax sudah sering dilakukan, termasuk melakukan mendatangi perguruan tinggi, menggelar debat mahasiswa, dan juga melalui media massa,” jelasnya.

Nasrun melihat sejauh ini masyarakat di Sumatera Barat termasuk masyarakat yang paham dan mengenali dengan sebuah informasi hoax.

Sementara itu, terkait penyebaran hoax itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan, untuk memerangi, perlu ada langkah memberikan pemahaman kepada jajaran pelajar. Hal ini dikarena, informasi bohong tersebut banyak menyebar di dunia maya, dan pengguna dunia maya cukup banyak mulai dari kalangan pelajar.

“Kita di provinsi telah cukup sering menyampaikan kepada pelajar dan masyarakat bahwa perlu waspada dan saring dulu apabila ada menerima informasi,” katanya.

Menurutnya dengan cara memahami dan penyaring informasi yang diterima seseorang, maka merupakan suatu upaya untuk mengantisipasi. Cara itu bahkan sudah cukup sering disampaikan kepada masyarakat. Namun kenyataannya, masih saja masyarakat terjebak.

Nasrul melihat, penyebaran cukup banyak tersebar di media sosial. Ketika satu orang yang membagi, dan isi informasi yang terdapat bahasa yang memancing rasa peduli dan menyudutkan satu pihak yang dinilai salah, satu demi satu pengguna akun, juga terus menyebar luaskan informasi tersebut.

“Menurut saya untuk menghindari hoax itu kita banyak referensi, supaya ada informasi pembanding, untuk mencari sebuah informasi yang benar,” tegasnya.

Lihat juga...